Bocah SD di Boyolali Ini Dapat Apresiasi dari NASA Amerika, Ternyata Begini Kebiasaan Belajarnya 

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

18 - Jul - 2026, 03:46

Ibrahim Al Abrar, siswa kelas 6 SD asal Boyolali, Jawa Tengah, menerima surat apresiasi resmi dari NASA setelah menemukan celah keamanan pada salah satu domain publik milik lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut. (Foto: Instagram @ibracoding)

JATIMTIMES - Di usia yang belum genap 12 tahun, Ibrahim Al Abrar berhasil menorehkan prestasi yang membuat banyak orang takjub. Siswa kelas 6 SD asal Boyolali, Jawa Tengah, itu menerima surat apresiasi resmi dari NASA setelah menemukan celah keamanan pada salah satu domain publik milik lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut.

Pencapaian itu diraih bukan karena mengikuti pelatihan mahal atau sekolah khusus teknologi. Ibra justru mengaku belajar secara otodidak melalui video di YouTube dan memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai teman berdiskusi.

Baca Juga : 20 Negara OECD dengan Gaji Guru Tertinggi di Dunia 2025, Penghasilan per Bulan Bisa Tembus Rp 141 Juta

Surat penghargaan dari NASA diterimanya pada 9 Juli 2026 setelah laporan yang dikirim melalui program Vulnerability Disclosure Policy (VDP) dinyatakan valid. Temuan tersebut berkaitan dengan kerentanan keamanan pada salah satu domain publik NASA.

Bagi Ibra, yang akan berulang tahun ke-12 pada 25 Juli mendatang, pencapaian tersebut menjadi hasil dari rasa ingin tahu dan kegigihannya mempelajari dunia teknologi sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Ketertarikan Ibra terhadap dunia teknologi ternyata bermula dari hobinya bermain game di ponsel.

Melihat minat sang anak, ayahnya, Aminuddin Salas, yang merupakan guru Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), mengarahkannya agar tidak hanya menjadi pemain game, tetapi juga belajar membuat game sendiri.

"Awalnya dia tertarik main game. Saya bilang, daripada cuma main game, kenapa tidak belajar bikin game-nya. Dari situ dia mulai belajar coding secara autodidak lewat YouTube, lalu banyak bertanya ke AI," ujar Aminuddin, dikutip dari detikJateng, Sabtu (18/7/2026).

Sejak kelas 4 SD, Ibra mulai mempelajari dasar-dasar pemrograman. Setelah menguasai coding, sekitar enam bulan terakhir ia mulai mendalami bidang keamanan siber atau cybersecurity, yang kini menjadi cita-citanya.

Ketertarikan Ibra terhadap keamanan siber muncul setelah membaca kisah para peneliti keamanan digital yang berhasil menemukan bug pada sistem NASA.

Hal itu membuatnya penasaran untuk mencoba melakukan hal serupa melalui jalur resmi yang telah disediakan.

Perjalanannya ternyata tidak selalu mulus. Beberapa laporan yang ia kirim sempat ditolak karena tidak memenuhi kriteria.

Namun Ibra tidak menyerah. Ia terus belajar hingga akhirnya berhasil menemukan celah keamanan bertipe broken link hijacking pada salah satu domain publik NASA.

Temuan tersebut kemudian dikirim melalui program Vulnerability Disclosure Policy (VDP) dan setelah melalui proses verifikasi dinyatakan valid oleh NASA.

Baca Juga : Hadiah Juara Piala Dunia 2026 Fantastis! FIFA Siapkan Rp 918 Miliar dan Cincin Juara Perdana

"Alhamdulillah, senang," kata Ibra saat menceritakan perasaannya setelah menerima surat apresiasi tersebut.

Menurut Ibra, mempelajari dunia keamanan siber bukan perkara mudah. Banyak istilah teknis yang awalnya sulit dipahami.

Saat mengalami kebuntuan, ia memilih mencari referensi melalui video YouTube. Selain itu, ia juga memanfaatkan AI untuk bertanya dan berdiskusi mengenai berbagai konsep teknologi.

Cara belajar tersebut membuatnya mampu memahami materi secara mandiri tanpa mengikuti kursus formal.

Sebelum fokus mendalami keamanan siber, Ibra juga sempat membuat beberapa gim sederhana sebagai latihan untuk mengasah kemampuan coding.

Melihat keseriusan putranya, Aminuddin berusaha memberikan dukungan semampunya.
Awalnya Ibra hanya belajar menggunakan telepon genggam. 

Setelah melihat semangat belajarnya yang terus meningkat, sang ayah kemudian membelikan komputer bekas. Beberapa waktu kemudian, Ibra akhirnya memiliki laptop sendiri agar lebih leluasa mengembangkan kemampuannya.

Aminuddin berharap penghargaan dari NASA menjadi langkah awal bagi putranya untuk terus berkembang sebagai peneliti keamanan siber.

"Harapan saya ini baru permulaan. Semoga setelah mendapat apresiasi dari NASA, dia semakin semangat belajar. Siapa tahu nanti bisa mendapatkan bug bounty dan akhirnya benar-benar menjadi profesional di bidang cybersecurity," harap sang ayah.