Tekan Inflasi Telur, Bupati Situbondo Siapkan 1.000 Kandang Ayam dan Gandeng BI Cetak Peternak Milenial

18 - Jun - 2026, 02:05

Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo saat bersama Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember Iqbal Reza Nugraha saat berbincang bersama peternak ayam petelur milenial, Kamis (18/6/2026). (Foto: Wisnu Bangun Saputro/ JATIMTIMES)

JATIMTIMES – Pemerintah Kabupaten Situbondo terus memperkuat sektor peternakan sebagai salah satu strategi menjaga ketahanan pangan sekaligus mengendalikan inflasi daerah. 

Upaya tersebut dilakukan melalui sinergi dengan Bank Indonesia (BI) dan pemberdayaan peternak ayam petelur yang digelar di Dusun Krajan Timur, Desa Asembagus, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Kamis (18/6/2026).

Baca Juga : PT KAI Daop 9 Resmikan KA Pandalungan 2, Pemkab Berharap Bawa Perubahan bagi Pembangunan Jember

Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo atau yang akrab disapa Mas Rio, mengatakan bahwa Pemkab Situbondo akan terus menjalin komunikasi intensif dengan Bank Indonesia, khususnya dalam pengembangan sektor pertanian dan peternakan.

“Insya Allah kita terus menjaga komunikasi intensif dengan BI khususnya terkait pertanian dan peternakan,” ujar Mas Rio.

Menurut dia, Pemkab Situbondo telah menganggarkan Rp400 juta untuk program Akademi Peternak yang diharapkan mampu bersinergi dengan BI dalam menciptakan peternak-peternak muda yang tangguh dan mandiri. Program tersebut menjadi bagian dari upaya regenerasi peternak sekaligus meningkatkan kapasitas usaha peternakan rakyat.

Mas Rio mengungkapkan bahwa program Capacity Building Peternak Milenial yang telah berjalan menunjukkan hasil menggembirakan. Ia mencontohkan adanya pelajar SMA yang berhasil mengembangkan usaha ternaknya secara signifikan setelah mengikuti pendampingan.

“Dengan adanya Capacity Building Peternak Milenial banyak peternak muda yang berkembang. Ada yang SMA sudah memiliki 200 ayam, sebelumnya sebelum kumpul-kumpul hanya 100 ayam sekarang sudah 200 ayam,” katanya.

Lebih lanjut, Mas Rio menilai sektor peternakan memiliki peran penting dalam mengendalikan inflasi daerah. Berdasarkan data yang dimiliki pemerintah daerah, komoditas cabai dan telur menjadi dua sektor yang paling sering memicu kenaikan inflasi di Kabupaten Situbondo.

“Saya melihat data yang sering kena inflasi adalah cabai dan telur. Nah itu kan harus ada cara, akhirnya saya panggil Plt kepala Dinas Peternakan untuk mengumpulkan pemuda peternak,” jelasnya.

Dari proses tersebut kemudian lahir Asosiasi Peternak Layer Situbondo sebagai wadah yang menaungi para peternak ayam petelur di Kabupaten Situbondo. Menurut Mas Rio, selama ini banyak peternak yang merasa tidak memiliki tempat untuk berkoordinasi dan menyampaikan aspirasi.

“Karena selama ini peternak merasa tidak punya bapak, akhirnya kita kumpulkan dan muncul APLS. Tidak hanya anak muda yang dikumpulkan, tetapi juga para janda dan emak-emak yang notabene rentan secara ekonomi,” ungkapnya.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemkab Situbondo juga menyiapkan program bantuan 1.000 kandang ayam bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha peternakan. Program tersebut diharapkan mampu memperluas populasi ayam petelur dan meningkatkan produksi telur daerah.

“Pemkab Situbondo menyiapkan bantuan 1.000 kandang. Untuk ayamnya silakan beli sendiri, uangnya bisa mengamprah ke bank menggunakan program UMKM dan bunganya akan dibayarkan oleh Pemkab Situbondo,” tegas Mas Rio.

Dalam kegiatan tersebut, Bank Indonesia juga menyalurkan berbagai bantuan untuk mendukung penguatan sektor pertanian dan peternakan di Kabupaten Situbondo. Bantuan tersebut berupa sarana dan prasarana pertanian kepada Kelompok Tani Bina Karya II Kabupaten Situbondo yang meliputi satu set irigasi sprinkler dan satu unit digital farming.

Selain itu, diserahkan pula bantuan pembangunan dua set kandang ayam petelur kepada Kelompok Peternak Ayam Petelur Jasa Bogas II Kabupaten Situbondo. Bantuan ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas peternak sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah melalui peningkatan produksi telur.

Baca Juga : Libatkan Difabel, Persebaya Rayakan Hari Jadi Ke-99 dengan Semangat untuk Semua

Mas Rio menegaskan bahwa dukungan sarana dan prasarana tersebut merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem peternakan dan pertanian yang modern. Menurutnya, peningkatan kapasitas sumber daya manusia harus dibarengi dengan penyediaan fasilitas yang memadai agar petani dan peternak mampu berkembang secara berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember, Iqbal Reza Nugraha, menyampaikan bahwa peternak merupakan garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan, khususnya ketersediaan telur di daerah.

“Peternak merupakan garda terdepan bagi seluruh pemerintah kabupaten dalam menjaga ketahanan pangan khususnya telur,” kata Iqbal.

Ia menekankan pentingnya membangun karakter peternak milenial yang mencintai profesinya, bangga karena ikut menjaga stabilitas harga telur, serta memahami tata kelola usaha secara profesional. Menurutnya, keberhasilan usaha peternakan tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga kemampuan mengelola pembukuan dan pemasaran.

“Optimalisasi peluang pasar terkait komoditas telur merupakan tanggung jawab bersama. Semoga bisa berkembang menjadi koperasi telur di Kabupaten Situbondo,” ujarnya.

Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari masyarakat. Perwakilan emak-emak peternak ayam petelur dari Selobanteng, Nur Hasanah, mengaku program pemberdayaan peternak telah membuka peluang kerja baru bagi perempuan yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan.

“Dengan adanya pemberdayaan peternak ayam petelur banyak emak-emak yang mendapatkan manfaat yang sebelumnya menganggur kini bisa bekerja,” tutur Hasanah.

Dalam kesempatan itu, Kepala Desa Kembangsari turut memaparkan potensi ketersediaan bahan baku pakan lokal berupa katul. Ia menyebut stok katul di wilayahnya mencapai sekitar 100 ton dengan produksi rata-rata 3,5 ton per hari. Potensi tersebut dinilai mampu membantu peternak menekan biaya produksi di tengah naiknya harga pakan pabrikan.

Saat ini harga telur di tingkat eceran berada di kisaran Rp23 ribu per kilogram, sedangkan harga di tingkat peternak berkisar Rp22 ribu hingga Rp22.500 per kilogram. Kondisi kenaikan harga pakan membuat sebagian peternak memilih mencampurkan pakan jadi dengan katul agar biaya operasional tetap terkendali.

Melalui kolaborasi antara Pemkab Situbondo, Bank Indonesia, APLS, serta para peternak milenial dan kelompok perempuan, Kabupaten Situbondo diharapkan mampu meningkatkan produksi telur, menjaga stabilitas harga pangan, sekaligus menciptakan lebih banyak wirausaha baru di sektor peternakan rakyat. Dengan langkah tersebut, peternakan tidak hanya menjadi penyangga ketahanan pangan, tetapi juga instrumen penting dalam pengentasan kemiskinan dan pengendalian inflasi daerah.