5 Fakta Penting Kesepakatan Damai Iran dan Amerika Serikat, Disebut Akan Ditandatangani di Swiss
Reporter
Mutmainah J
Editor
Yunan Helmy
16 - Jun - 2026, 02:22
JATIMTIMES - Hubungan Iran dan Amerika Serikat yang selama puluhan tahun diwarnai ketegangan kembali menjadi sorotan setelah muncul kabar mengenai rencana kesepakatan damai antara kedua negara. Jika terealisasi, langkah ini dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah hingga jalur perdagangan internasional yang melintasi Selat Hormuz.
Sejumlah laporan menyebut nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) telah dirampungkan dan dijadwalkan untuk ditandatangani di Swiss. Selain membahas hubungan Iran dan AS, kesepakatan tersebut juga dikabarkan menyentuh isu keamanan regional, termasuk kondisi di Lebanon.
Baca Juga : Heboh Mahasiswa Geruduk Diskusi Nusron Wahid dan Budiman Sudjatmiko di UGM, Ternyata Ini Alasan di Baliknya
Dirangkum dari berbagai sumber, termasuk pernyataan Presiden AS Donald Trump, kantor berita Iran Mehr, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, berikut lima fakta penting yang menjadi sorotan.
1. Dijadwalkan diteken pada 19 Juni di Swiss
Presiden AS Donald Trump menyebut nota kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat akan ditandatangani di Swiss pada Jumat 19 Juni.
Informasi serupa juga disampaikan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Menurut dia, kesepakatan tersebut terwujud berkat mediasi Qatar serta dukungan dari Arab Saudi dan Turki.
"Penandatanganan resmi akan dilakukan pada Jumat 19 Juni di Swiss. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Amerika Serikat dan Republik Islam Iran atas komitmen mereka mencari solusi novel dalam konflik ini," kata Sharif, seperti dikutip kantor berita Iran Mehr.
2. Iran diklaim telah menyetujui kesepakatan
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran menyatakan telah memberikan persetujuan terhadap nota kesepahaman tersebut.
SNSC menyebut teks MoU dirampungkan atas arahan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei, dukungan rakyat Iran, serta upaya pasukan bersenjata negara tersebut.
"Berdasarkan persetujuan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, teks MoU mengenai negosiasi negosiasi perang antara Iran dan AS telah difinalisasi pada 15 Juni malam," demikian pernyataan SNSC.
3. Selat Hormuz Disebut Bebas Tarif untuk kapal
Salah satu poin yang disampaikan Trump adalah komitmen untuk tidak mengenakan tarif terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Selain itu, Iran disebut akan lebih dulu membersihkan seluruh ranjau di jalur pelayaran tersebut sebelum Selat Hormuz dibuka kembali. Jalur ini diketahui menjadi salah satu rute perdagangan dan distribusi energi paling vital di dunia.
4. Mencakup Upaya Menghentikan Perang di Lebanon
Laporan dari Mehr dan keterangan yang disampaikan pihak Pakistan menyebut perjanjian damai juga mencakup komitmen untuk menghentikan pertempuran di berbagai lini, termasuk Lebanon.
Namun, Israel dan Hizbullah bukan merupakan pihak dalam kesepakatan tersebut. Karena itu, implementasi poin ini diperkirakan bergantung pada langkah diplomasi lanjutan serta kondisi di lapangan.
Baca Juga : Mengenang Heroisme Shahabiyah, Garda Kemanusiaan dan Pertahanan Umat
Di sisi lain, sejumlah menteri Israel sebelumnya menyatakan pasukan mereka akan tetap berada di wilayah Lebanon yang telah mereka duduki hingga Hizbullah sepenuhnya musnah.
5. Trump Sebut Netanyahu Hampir Menggagalkan Kesepakatan
Dalam wawancara dengan The New York Times pada Minggu, Trump mengaku proses menuju kesepakatan nyaris gagal akibat tindakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Menurut Trump, serangan Israel yang terus berlangsung di Lebanon hampir membuat Iran menolak kesepakatan tersebut.
“Dia [Netanyahu] orang yang sangat sulit,” kata Trump mengenai Netanyahu yang terus berambisi melanjutkan perang.
Trump juga menyampaikan bahwa Netanyahu seharusnya bersyukur atas upaya AS dalam meredakan konflik dengan Iran.
"Sejujurnya, dia [Netanyahu] harusnya berterima kasih kepada kami karena telah melakukan ini [menghentikan pertempuran]. Sebab jika Iran punya senjata nuklir, Israel tidak akan bertahan dalam dua jam," kata Trump.
Meski demikian, pernyataan tersebut merupakan pandangan Trump dan menjadi bagian dari dinamika politik yang berkembang seputar proses negosiasi.
Perlu dicatat bahwa sejumlah informasi mengenai isi dan pelaksanaan nota kesepahaman ini masih berasal dari pernyataan para pihak terkait dan laporan media. Perkembangan selanjutnya dapat berubah seiring adanya pengumuman resmi maupun implementasi di lapangan.
