BI Malang Ungkap Penjualan Eceran Anjlok pada Mei 2026, Daya Beli Warga Mulai Melemah?
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Nurlayla Ratri
12 - Jun - 2026, 06:48
JATIMTIMES - Bank Indonesia (BI) Malang memprakirakan kinerja penjualan eceran di wilayah kerjanya mengalami perlambatan pada Mei 2026. Berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE), penjualan ritel diproyeksikan terkontraksi sebesar -2,53 persen secara bulanan (month to month/mtm).
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi pada April 2026 yang masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,66 persen (mtm). Survei Penjualan Eceran menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk memantau perkembangan ekonomi daerah, khususnya dari sisi konsumsi masyarakat dan tekanan inflasi berbasis permintaan.
Baca Juga : Lewati Dua Kali Uji Kelayakan, Nurochman Kembali Terpilih Pimpin DPC PKB Kota Batu 2026-2031
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Malang, Indra Kuspriyadi, mengatakan hasil survei tersebut menunjukkan adanya perlambatan konsumsi pada sejumlah kelompok komoditas pada Mei 2026.
"Berdasarkan hasil survei, terdapat tiga kelompok komoditas yang diperkirakan mengalami penurunan omzet paling dalam sepanjang Mei 2026. Ketiganya yakni kelompok barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman dan tembakau, serta kelompok kendaraan," ungkap Indra.
"Kelompok barang budaya dan rekreasi diprakirakan mencatat kontraksi terdalam, yakni sebesar 12,95 persen (mtm). Padahal pada April 2026, kelompok ini masih mampu tumbuh hingga 21,98 persen (mtm)," imbuhnya.
Penurunan tersebut menurut Indra dipicu oleh melemahnya penjualan pada subsektor alat tulis yang tercatat terkontraksi sebesar 17,44 persen (mtm).
Berdasarkan informasi dari responden Survei Penjualan Eceran, kondisi tersebut dipengaruhi oleh belum optimalnya aktivitas pendidikan dan perkantoran pada periode Mei. Akibatnya, kebutuhan masyarakat terhadap perlengkapan tulis-menulis masih relatif terbatas.
Selain itu, sebagian konsumen memilih menunda pembelian perlengkapan administrasi hingga mendekati tahun ajaran baru maupun meningkatnya aktivitas kerja.
Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga diperkirakan mengalami kontraksi sebesar 3,89 persen (mtm). Meski demikian, penurunan ini masih lebih baik dibandingkan April 2026 yang terkontraksi hingga 19,90 persen (mtm).
Melemahnya kelompok ini terutama dipengaruhi turunnya penjualan subsektor minuman yang diprakirakan terkontraksi sebesar 22,78 persen (mtm).
Berdasarkan keterangan responden, kondisi tersebut terjadi akibat normalisasi pola konsumsi masyarakat setelah periode peningkatan permintaan sebelumnya. Konsumen juga disebut mulai mengurangi pembelian dalam jumlah besar.
Kelompok kendaraan turut diprediksi mengalami penurunan dengan kontraksi sebesar 3,59 persen (mtm). Meski demikian, angka ini menunjukkan perbaikan dibandingkan April 2026 yang tercatat minus 8,22 persen (mtm).
Penurunan pada kelompok kendaraan terutama berasal dari subsektor mobil yang diperkirakan turun sebesar 3,94 persen (mtm).
Menurut hasil survei, keputusan konsumen untuk menunda pembelian kendaraan dipengaruhi belum adanya program promosi yang dinilai menarik. Selain itu, sebagian masyarakat masih menerapkan sikap wait and see sambil menunggu peluncuran model kendaraan terbaru di pasaran.
Di tengah perlambatan sejumlah sektor tersebut, beberapa kelompok komoditas masih menunjukkan kinerja positif.
Kelompok barang lainnya tercatat tumbuh sebesar 3,16 persen (mtm). Kinerja positif juga ditunjukkan kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya yang meningkat 2,17 persen (mtm).
Adapun kelompok suku cadang dan aksesori kendaraan masih mampu tumbuh tipis sebesar 0,23 persen (mtm).
Capaian tersebut mengindikasikan bahwa konsumsi masyarakat terhadap kebutuhan tertentu masih tetap terjaga. Di sisi lain, pola belanja masyarakat saat ini dinilai cenderung lebih selektif dengan memprioritaskan kebutuhan yang dianggap penting.
Indra berkomitmen Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dan sinergi dengan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di wilayah Malang Raya.
"Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Pusat dan Daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Kota Malang," pungkas Indra.
