UB Luncurkan BOUMI, Kembangkan Produk Sunscreen Anak dari Rambut Jagung
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Yunan Helmy
17 - Apr - 2026, 04:22
JATIMTIMES - Peluncuran BOUMI oleh Universitas Brawijaya menempatkan riset sebagai titik awal dalam pengembangan produk personal care anak. Salah satu aspek yang menonjol dalam proses tersebut adalah pengembangan sunscreen berbasis rambut jagung, yang berasal dari temuan ilmiah di bidang teknologi pertanian.
Riset mengenai pemanfaatan rambut jagung atau stigma silk tidak muncul dalam konteks industri kosmetik, melainkan dari pengamatan terhadap limbah pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Dalam proses penelitian, material ini dianalisis kandungan senyawanya dan menunjukkan adanya komponen seperti ferulic acid dan flavonoid yang memiliki kemampuan menyerap radiasi ultraviolet.
Baca Juga : Ada Temuan Anggaran Janggal di Komdigi, Terbongkar Lewat Sistem AI
Dr Rosalina Ariesta Laeliocattley, dosen Teknologi Pertanian UB, menjelaskan bahwa penelitian tersebut berlanjut ke tahap formulasi untuk menguji apakah karakteristik senyawa tersebut dapat diterapkan dalam produk perlindungan kulit. Pengujian dilakukan melalui metode in vitro dan in vivo untuk mengukur tingkat perlindungan yang dihasilkan.

"Yang selama ini kita buang ternyata memiliki potensi perlindungan terhadap paparan sinar UV,” ujarnya, Jumat, (17/4/2026).
Hasil pengujian menunjukkan bahwa formulasi sunscreen berbasis rambut jagung mampu mencapai tingkat perlindungan pada kisaran SPF 30+. Angka ini menjadi salah satu parameter yang umum digunakan dalam produk perlindungan kulit, terutama di wilayah dengan intensitas paparan matahari yang tinggi. Dengan demikian, pemanfaatan bahan tersebut tidak berhenti pada tahap eksplorasi, tetapi telah melalui tahapan validasi ilmiah yang terukur.
Dalam proses pengembangannya, riset ini juga terhubung dengan kajian mengenai karakteristik kulit anak yang memiliki sensitivitas lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Dr dr Sinta Murlistyarini Sp DVE, Subsp.DKE, FINSDV, FAADV, Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi dan Estetika Fakultas Kedokteran UB, menegaskan bahwa kebutuhan produk perawatan kulit anak bukan sekadar tren, melainkan lahir dari realitas klinis yang terus berulang.
“Saya sebagai dokter spesialis kulit melihat bahwa sekitar sepuluh tahun terakhir sudah mulai banyak orang tua datang ke kami sebagai klinisi dengan kebutuhan produk perawatan untuk anak-anak mereka. Awalnya dari keluhan sederhana seperti gatal, memar karena jatuh, atau iritasi kulit akibat aktivitas sehari-hari. Dari situ terlihat bahwa anak-anak memang membutuhkan penanganan yang berbeda,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa praktik tersebut kemudian berkembang menjadi upaya edukasi yang lebih luas mengenai pentingnya perawatan kulit sejak usia dini. “Kami mulai mengenalkan bahwa perawatan kulit tidak menunggu saat remaja, tetapi dimulai sejak anak, bahkan sejak bayi. Banyak kasus bekas luka atau iritasi yang sebenarnya bisa diminimalkan jika dirawat sejak awal, sebelum kondisi itu berkembang lebih jauh,” katanya.

Menurut dia, salah satu persoalan yang masih sering ditemui adalah penggunaan produk dewasa untuk anak. “Banyak orang tua yang bertanya apakah produk dewasa bisa digunakan untuk anak. Contohnya penggunaan sabun antiseptik ketika anak mengalami keluhan kulit. Padahal, tidak semua kondisi membutuhkan produk seperti itu, karena kulit anak lebih sensitif,” ujarnya.
Dr Sinta juga menyoroti kondisi pasar yang belum sepenuhnya menjawab kebutuhan tersebut. “Kalau kita melihat di pasaran, produk untuk anak memang banyak. Tetapi sebagian merupakan produk dewasa yang diberi label kids, sehingga pendekatan formulasi belum tentu benar-benar sesuai dengan kebutuhan kulit anak,” katanya. Ia menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan nyata terhadap produk kids care yang dirancang secara spesifik berbasis karakteristik kulit anak.
Prof Warsito, kepala Institute Atsiri UB, menjelaskan bahwa penggunaan bahan berbasis tanaman dalam formulasi turut dikaji melalui penelitian terkait minyak atsiri. Senyawa aktif dari tanaman memiliki fungsi yang dapat diukur secara ilmiah, seperti aktivitas antimikroba dan antiinflamasi. Menurut dia, pendekatan ini menempatkan bahan alam bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai bagian dari struktur formulasi yang diuji secara sistematis.
Baca Juga : Dewan Dukung Penuh Pembangunan Gedung FIKKIA Unair Banyuwangi
Sementara itu, Prof Unti Ludigdo, wakil rektor bidang riset, inovasi, dan kerja sama UB, menjelaskan bahwa, salah satu tantangan dalam riset kampus adalah memastikan hasil penelitian dapat melewati tahap hilirisasi.
“Kami ingin memastikan bahwa hasil riset tidak berhenti di publikasi, tetapi dapat diuji dalam konteks penggunaan langsung,” ujarnya.
Dalam kerangka tersebut, sunscreen berbasis rambut jagung dapat dibaca sebagai hasil dari rangkaian proses riset yang berlapis, mulai dari identifikasi bahan, analisis senyawa, pengujian efektivitas, hingga formulasi produk.
Lebih dari itu, pendekatan ini menunjukkan bagaimana material yang sebelumnya tidak memiliki nilai guna dalam industri dapat dikaji ulang melalui metode ilmiah dan ditempatkan dalam konteks aplikasi yang berbeda, sekaligus menjawab kebutuhan spesifik perawatan kulit anak yang selama ini belum sepenuhnya terpenuhi.
"Proses pengembangan hingga menjadi produk melibatkan tahapan yang lebih luas, termasuk standardisasi produksi dan pengujian keamanan. Tentunya ini Kamis terus dorong untuk berkembang. Bahkan mahasiswa, para pegawai bisa menjadi pasar, dimana memang produk ini memiliki manfaat," pungkasnya.
