Mengenal Nafta, Bahan Baku Plastik yang Kini Langka dan Bikin Harga Naik Tajam
Reporter
Mutmainah J
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
16 - Apr - 2026, 06:17
JATIMTIMES - Kelangkaan bahan baku plastik belakangan ini menjadi sorotan, terutama karena terganggunya pasokan nafta, komponen utama dalam industri petrokimia. Kondisi tersebut tak hanya memicu kenaikan harga plastik di dalam negeri, tetapi juga berdampak luas pada berbagai sektor industri.
Situasi ini berkaitan erat dengan konflik global, khususnya di kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu pemasok utama nafta dunia. Ketika distribusi terganggu, negara-negara yang bergantung pada impor, termasuk Indonesia, langsung merasakan efeknya.
Baca Juga : Polres Gresik Bongkar Penimbunan 10 Ribu Liter BBM Bersubsidi di Ujungpangkah, Satu Tersangka Diamankan
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor nafta masih cukup tinggi. Sekitar 60 persen kebutuhan dalam negeri dipasok dari Timur Tengah. Karena itu, gangguan pasokan langsung berdampak pada industri nasional.
“Ini bagian dari dampak perang. Kita masih mengimpor sekitar 60 persen nafta dari Timur Tengah, jadi ketika pasokan terganggu, kita ikut terdampak,” ujar Budi dalam konferensi pers di Kantor Staf Presiden, Jakarta, Rabu (1/4) lalu.
Dampak dari kelangkaan ini mulai terasa di tingkat pedagang. Harga berbagai produk plastik mengalami lonjakan signifikan. Plastik kantong yang sebelumnya dijual sekitar Rp 15 ribu per pak kini naik menjadi Rp 23 ribu. Sedotan plastik juga mengalami kenaikan dari Rp 8.000 menjadi Rp 10 ribu, sementara plastik kemasan melonjak dari Rp 36 ribu menjadi Rp 60 ribu.
Sejumlah pelaku usaha bahkan menyebut kenaikan harga bahan plastik bisa mencapai 30 hingga 60 persen, bahkan dalam beberapa kasus hingga dua kali lipat akibat stok yang semakin terbatas.
Kenaikan ini tentu berdampak pada biaya produksi, terutama bagi industri makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan plastik.
Apa Itu Nafta?
Dilansir dari berbagai sumber, nafta adalah cairan hasil penyulingan minyak bumi yang menjadi bahan dasar berbagai produk industri, terutama plastik. Dalam prosesnya, minyak mentah diolah hingga menghasilkan nafta, yang kemudian diproses lebih lanjut menjadi bahan kimia penting.
Dari nafta, industri menghasilkan senyawa seperti etilena dan propilena dua bahan utama yang digunakan untuk membuat plastik, karet sintetis, hingga berbagai produk kimia lainnya.
Bisa dibilang, nafta adalah “bahan dasar” dalam dapur industri petrokimia. Tanpa nafta, proses produksi banyak bahan penting akan terhenti.
Tak hanya untuk plastik, nafta juga digunakan dalam berbagai kebutuhan lain, seperti:
• Campuran bahan bakar bensin
• Pelarut untuk cat dan tinta
• Bahan baku produk kimia industri
Nafta memiliki karakteristik mudah menguap dan mudah terbakar, dengan bau khas menyerupai bensin. Secara kimia, nafta merupakan campuran hidrokarbon dengan jumlah atom karbon antara lima hingga dua belas.
Titik didihnya bervariasi, mulai dari sekitar 30 hingga 200 derajat Celsius, tergantung jenisnya. Sifat ini membuat nafta fleksibel digunakan di berbagai sektor industri.
Baca Juga : Polda Jatim Bongkar Praktik Beras SPHP Palsu yang Beredar di Pasaran
Jenis-Jenis Nafta
Dalam praktiknya, nafta dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan penggunaannya:
• Nafta ringan: digunakan sebagai bahan baku petrokimia dan bahan bakar
• Nafta berat: digunakan untuk pelumas, aspal, dan kebutuhan industri berat
• Nafta aromatik: dipakai sebagai pelarut dalam industri cat, tinta, dan bahan kimia tertentu
Meski berbeda fungsi, semua jenis nafta berasal dari sumber yang sama, yakni minyak bumi.
Alasan Nafta Bisa Langka
Kelangkaan nafta terjadi karena pasokannya sangat bergantung pada impor, khususnya dari Timur Tengah. Ketika terjadi konflik atau gangguan distribusi di wilayah tersebut, pasokan global ikut terganggu.
Tidak hanya Indonesia, sejumlah negara lain juga menghadapi situasi serupa. Bahkan, beberapa produsen terpaksa mengurangi kapasitas produksi karena keterbatasan bahan baku.
Akibatnya, pasokan semakin menipis dan harga naik di pasar global, yang kemudian berdampak langsung pada berbagai sektor industri.
Untuk mengatasi situasi ini, pemerintah mulai mencari alternatif pasokan dari negara lain. Langkah ini diharapkan dapat menjaga keberlangsungan produksi industri sekaligus menahan kenaikan harga di pasar.
Meski begitu, kondisi ini menjadi pengingat pentingnya diversifikasi sumber bahan baku dan penguatan industri dalam negeri agar tidak terlalu bergantung pada impor.
