Trump Hapus Unggahan AI Dirinya Mirip Yesus, Sindir Paus Leo?
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Nurlayla Ratri
15 - Apr - 2026, 09:47
JATIMTIMES - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah menghapus unggahan gambar berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya dengan sosok menyerupai Yesus Kristus. Unggahan tersebut sebelumnya sempat ramai diperbincangkan di media sosial karena dinilai kontroversial dan memicu kritik, termasuk dari kalangan konservatif religius.
Gambar itu diunggah melalui akun Truth Social milik Trump pada Minggu (12/4/2026) waktu setempat, lalu menghilang pada Senin (13/4/2026). Dalam ilustrasi bergaya lukisan tersebut, wajah Trump digambarkan mengenakan jubah putih dengan selempang merah, visual yang identik dengan penggambaran Yesus.
Baca Juga : Italia Hentikan Perjanjian Militer dengan Israel, Hubungan Mendadak Memanas
Ia tampak meletakkan tangan di kepala seorang pria yang terbaring, dalam adegan yang menyerupai proses penyembuhan. Latar gambar juga dipenuhi simbol khas Amerika, mulai dari bendera AS, jet tempur yang melintas di langit, hingga sosok lain yang menyerupai malaikat mengawasi dari atas.

Unggahan Trump yang kontroversial sebelum dihapus. (Foto: X)
Kontroversi ini mencuat tak lama setelah Trump terlibat perang pernyataan dengan Paus Leo XIV. Perselisihan keduanya dipicu seruan Paus untuk menghentikan perang di Timur Tengah, terutama konflik yang dipanaskan oleh serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran.
Sebelum mengunggah gambar AI tersebut, Trump lebih dulu melontarkan kritik terhadap Paus Leo. Ia menyebut pemimpin Gereja Katolik itu “lemah dalam menangani kejahatan” dan “buruk dalam kebijakan luar negeri”.
Trump juga mengecam seruan perdamaian yang disampaikan Paus terkait konflik di Timur Tengah. Menurutnya, Paus terlalu lunak terhadap Iran yang disebutnya ingin memiliki senjata nuklir.
"Bukan penggemar berat Paus Leo" tambah Trump.
Menanggapi kritik tersebut, Paus Leo memilih merespons dengan nada tenang. Dalam keterangannya kepada wartawan sebelum tiba di Aljir, ia menegaskan bahwa Gereja memiliki kewajiban moral untuk menyuarakan perdamaian.
“Kami bukan politisi, kami tidak berupaya membuat kebijakan luar negeri seperti yang dia sebutkan dengan perspektif yang sama seperti yang mungkin dia pahami,” kata Paus Leo, dikutip Skynews, Rabu (15/4/2026).
Baca Juga : Bupati Sanusi Kunjungi Puskesmas Dampit hingga Turen, Pastikan Fasilitas dan Layanan Berjalan Baik
“Yang saya katakan adalah bahwa misi Gereja sangat jelas. Injil mengatakan... berbahagialah orang-orang yang menciptakan perdamaian. Saya percaya bahwa Gereja memiliki kewajiban moral untuk berbicara dengan sangat jelas menentang perang dan mendukung perdamaian dan rekonsiliasi,” ujar Paus Leo.
Ia kemudian menambahkan, “Saya tidak takut, baik terhadap pemerintahan Trump, maupun untuk berbicara lantang tentang pesan Injil.”
Setelah menuai kritik, Trump akhirnya menghapus unggahan tersebut. Saat ditanya alasan penghapusan, Trump membantah bahwa gambar itu dimaksudkan sebagai representasi dirinya sebagai Yesus.
Dilansir laporan CBS News, Trump mengklaim gambar tersebut seharusnya dipahami sebagai dirinya dalam sosok dokter yang “membantu orang menjadi lebih baik”.
Meski sudah dihapus, unggahan tersebut terlanjur memicu gelombang reaksi di ruang digital. Sejumlah pengamat media dan tokoh publik menilai penggunaan simbol religius dalam konteks politik berpotensi memancing polemik yang lebih besar, terlebih saat dilakukan di tengah tensi geopolitik dan perseteruan dengan pemimpin agama dunia.
