JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Mengapa El Niño Bisa Menyebabkan Kekeringan? Ini Penjelasannya

Reporter: Redaksi • Editor: Redaksi
📅 14 April 2026, 22:51 WIB ⏱️ 2 menit baca

Fenomena El Niño kerap dikaitkan dengan meningkatnya risiko kekeringan di Indonesia. Kondisi ini terjadi karena adanya perubahan pola suhu permukaan laut dan sirkulasi atmosfer yang berdampak langsung pada pembentukan awan hujan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG menjelaskan bahwa El Niño menyebabkan berkurangnya curah hujan di wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Baca Juga : Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Parah di Jawa Timur, BMKG Ingatkan Dampak El Niño

Apa yang Terjadi Saat El Niño?

Secara ilmiah, El Niño terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur mengalami pemanasan di atas normal. Kondisi ini menggeser pusat pembentukan awan hujan menjauh dari wilayah Indonesia.

Akibatnya, wilayah Indonesia kehilangan pasokan uap air yang biasanya menjadi bahan utama pembentukan hujan.

Mengapa Bisa Menyebabkan Kekeringan?

Dalam kondisi normal, angin pasat membawa uap air dari Samudra Pasifik ke wilayah Indonesia, sehingga mendukung terbentuknya hujan.

Namun saat El Niño terjadi:

BMKG menyebut kondisi ini sebagai salah satu faktor utama penyebab kekeringan di Indonesia.

“El Niño berpotensi mengurangi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga meningkatkan risiko kekeringan, terutama pada musim kemarau,” demikian penjelasan BMKG dalam rilis resminya.

Dampak El Niño di Indonesia

Penurunan curah hujan akibat El Niño dapat memicu berbagai dampak, antara lain:

Wilayah seperti Jawa Timur, Nusa Tenggara, dan sebagian Kalimantan termasuk daerah yang paling rentan terdampak.

Baca Juga : Musim Kemarau 2026 di Jawa Timur Diprediksi Lebih Kering dan Mundur, Waspada Dampak El Niño

Seberapa Besar Dampaknya?

Kekuatan dampak El Niño bergantung pada intensitasnya. Semakin kuat fenomena ini, maka semakin besar potensi kekeringan yang terjadi.

BMKG mencatat bahwa peluang munculnya El Niño pada 2026 berada di kisaran menengah, namun tetap perlu diwaspadai karena dapat memperpanjang musim kemarau.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Menghadapi potensi kekeringan akibat El Niño, masyarakat diimbau untuk mulai melakukan langkah antisipasi, seperti:

El Niño merupakan fenomena alam yang dapat mengubah pola cuaca secara signifikan. Dengan memahami mekanismenya, masyarakat dapat lebih siap menghadapi dampaknya, terutama dalam menghadapi risiko kekeringan yang lebih panjang dan ekstrem.

Topik Terkait
# Kekeringan# indonesia# el nino# bmkg# cuaca# ekstrem

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap