Asal-usul Buah Delima dalam Alquran dan Jejaknya dalam Sejarah Peradaban

12 - Apr - 2026, 10:45

Ilustrasi asal muasal buah delima (ist)

JATIMTIMES - Buah delima termasuk salah satu buah yang disebut dalam Alquran dan memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam. Allah SWT menyebutnya bersama buah-buahan lain sebagai tanda kekuasaan-Nya. Dalam surah Ar-Rahman ayat 68 disebutkan, Di dalam keduanya (surga itu) ada buah-buahan, kurma, dan delima.” Ayat lain dalam surah Al-An’am juga menegaskan bahwa keberagaman buah, termasuk delima, adalah tanda bagi orang-orang yang beriman.

Selain itu, dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk mengonsumsi delima. Salah satu kutipan yang sering dinisbatkan berbunyi, Makanlah buah delima, karena ia dapat membersihkan tubuh dari penyakit.” Meski kualitas riwayat ini diperselisihkan, delima tetap dikenal luas sebagai buah yang menyehatkan sejak masa lampau.

Baca Juga : Bupati Tulungagung Jadi Tersangka KPK, Terancam Penjara Seumur Hidup dalam Kasus Dugaan Pemerasan

Secara sejarah, delima telah dikenal manusia sejak ribuan tahun lalu. Buah ini diyakini berasal dari kawasan Asia Barat dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah di sekitarnya. Jejaknya ditemukan dalam banyak peradaban kuno, mulai dari Mesir, Yunani, hingga Romawi. Di wilayah Hebron, delima bahkan telah dibudidayakan sejak masa Nabi Musa. Temuan arkeologis berupa biji dan kulit delima di kawasan Timur Tengah menunjukkan bahwa buah ini sudah ada setidaknya sejak 3.000 tahun sebelum masehi.

Di Mesir kuno, delima memiliki nilai penting, baik sebagai makanan maupun simbol. Buah ini tergambar dalam lukisan dinding makam para firaun seperti Thutmose III. Pohonnya ditanam di pekarangan, sementara buahnya menjadi santapan kalangan bangsawan. Masyarakat Hyksos di sekitar Sungai Nil juga membudidayakan dan memperdagangkan delima, bahkan mengekspornya ke wilayah lain, yang turut meningkatkan kesejahteraan mereka.

Bangsa Romawi turut mengenal dan memanfaatkan delima. Mereka menggunakan dahannya sebagai hiasan kepala pengantin wanita, sebagai simbol kesuburan. Dalam kepercayaan Zoroastrianisme, delima juga melambangkan kehidupan setelah mati. Sementara itu, dalam mitologi Yunani, tokoh Persephone dikisahkan memegang buah delima dalam hubungannya dengan dunia bawah.

Nama ilmiah delima, Punica granatum, juga menyimpan sejarah panjang. Kata “Punica” merujuk pada bangsa Fenisia dari Afrika Utara, khususnya wilayah Kartago, yang dikenal sebagai salah satu jalur penyebaran buah ini. Bangsa Romawi menyebutnya malum punicum atau “apel dari Punic”. Adapun “granatum” berasal dari kata Latin granum yang berarti biji-bijian, menggambarkan banyaknya biji di dalam buah tersebut.

Baca Juga : Harga Plastik Meroket? Ini Cara Sederhana Agar Lebih Hemat dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam berbagai bahasa, nama delima berkembang dengan ciri khas masing-masing. Dalam bahasa Prancis disebut grenade, sementara dalam bahasa Spanyol disebut granada, yang juga menjadi nama kota Granada, tempat berdirinya istana Alhambra. Ada pula pendapat yang menyebut bahwa delima berasal dari wilayah Iran, di mana buah ini dikenal dengan nama “anar” dan telah dibudidayakan sejak ribuan tahun silam.