Lebih dari 200 Pendaftar, UIN Malang Uji Kesiapan Program Internship ke Jepang

Editor

A Yahya

11 - Apr - 2026, 12:58

Pembahasan teknis program internship ke Jepang yang dilaksanakan melalui agenda koordinasi yang dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof. Triyo, Kepala Pusat Career Development Center, Kepala Pusat Bisnis Dr. Suud Fuadi, Kepala Pusat Kemahasiswaan Dr. Romi Faslah, serta tim CDC UIN Malang (ist)

JATIMTIMES - Lebih dari 200 mahasiswa mendaftar untuk program internship ke Jepang, satu program yang bahkan belum sepenuhnya berjalan. Angka itu langsung mengubah cara pandang banyak pihak di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, bahwa ini bukan lagi sekadar program tambahan, tapi kebutuhan yang nyata.

Program internship ke Jepang yang difasilitasi oleh Career Development Center (CDC) UIN Maliki Malang kini masuk ke tahap yang lebih serius. Fokusnya bukan lagi sosialisasi, melainkan memastikan apakah sistem yang disiapkan benar-benar mampu menjawab ekspektasi mahasiswa sekaligus tuntutan mitra luar negeri.

Baca Juga : WFH dan Bike to Work Jadi Paket Kebijakan Baru Pemkot Malang

Dalam diskusi internal, Jumat, (10/4/2026) yang melibatkan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof. Triyo, Kepala Pusat CDC, Kepala Pusat Bisnis Dr. Suud Fuadi, Kepala Pusat Kemahasiswaan Dr. Romi Faslah, serta tim CDC UIN Malang dan unit terkait, satu hal menjadi jelas, yakni tantangan terbesar bukan mengirim mahasiswa ke Jepang, tetapi memastikan mereka siap menghadapi realitas kerja di sana.

Kepala CDC UIN Maliki Malang, Dr. Ahmad Ghozi, menekankan bahwa program ini tidak boleh berhenti pada angka partisipasi. Menurutnya, keberhasilan justru diukur dari dampak yang dibawa pulang oleh mahasiswa.

“Yang kami kejar bukan sekadar keberangkatan. Mahasiswa harus pulang dengan pengalaman yang relevan dan bisa meningkatkan daya saing mereka,” ujarnya, Sabtu, (11/4/2026).

Pernyataan itu mencerminkan pergeseran pendekatan. Program internasional tidak lagi dilihat sebagai prestise institusi, tetapi sebagai investasi jangka panjang bagi mahasiswa.

Di sisi lain, mitra dari Jepang juga tidak menutup mata terhadap tantangan yang ada. Nyoto, yang mewakili PT Select.co Ltd Jepang, secara terbuka mengingatkan bahwa ekspektasi kerja di Jepang sering kali tidak sejalan dengan bayangan mahasiswa.

“Banyak yang tertarik karena Jepang terlihat menarik. Tapi ritme kerja di sana cepat, disiplin tinggi, dan standar profesionalnya ketat. Kalau tidak siap, adaptasinya akan berat,” jelasnya.

Di titik ini, terlihat bahwa kedua pihak berbicara dalam kerangka yang sama: kualitas lebih penting daripada kuantitas. Tingginya jumlah pendaftar justru memperbesar tanggung jawab penyelenggara untuk melakukan seleksi yang tepat.

Baca Juga : Wakil Ketua DPRD Jatim Sri Wahyuni Puji Aksi Guru di Bojonegoro Lari 4 Km ke Sekolah

Fenomena ini juga menunjukkan perubahan pola pikir mahasiswa. Pengalaman internasional kini bukan lagi pelengkap, tetapi dianggap sebagai bagian penting dari persiapan karier. Dalam konteks persaingan global, pengalaman bekerja di luar negeri sering menjadi pembeda yang signifikan.

Namun, antusiasme tanpa kesiapan bisa menjadi masalah baru. Tanpa pemahaman tentang budaya kerja, bahasa, dan tekanan profesional di Jepang, mahasiswa berisiko mengalami culture shock yang berdampak pada performa mereka.

Karena itu, pembahasan teknis yang sedang dilakukan tidak berhenti pada hal administratif. Ada kebutuhan untuk merancang pembekalan yang lebih realistis: simulasi kerja, pemahaman etika profesional, hingga kesiapan mental menghadapi tekanan.

Program ini pada akhirnya akan diuji bukan saat pelepasan peserta, tetapi saat mereka berada di tempat kerja yang sebenarnya. Di sanalah semua persiapan akan terlihat hasilnya.

Dengan minat yang sudah tinggi dan dukungan mitra yang jelas, peluang program ini untuk berhasil terbuka lebar. Tapi hasil akhirnya tetap bergantung pada satu hal sederhana: seberapa serius semua pihak mempersiapkannya.