Jejak Luka Khabbab bin Arats, Ketika Siksaan Tak Mampu Memadamkan Iman

Editor

A Yahya

26 - Mar - 2026, 11:14

Ilustrasi sahabat yang mendapatkan siksaan namun tak tergoyahkan imannya (ist)

JATIMTIMESDi antara kisah paling getir pada masa awal Islam, nama Khabbab bin Arats tidak bisa dilewatkan. Ia bukan hanya sahabat Nabi Muhammad SAW, tetapi juga simbol keteguhan iman di tengah tekanan yang nyaris tak manusiawi.

Khabbab dikenal sebagai seorang pandai besi di Makkah. Dari tangannya, senjata-senjata ditempa. Namun setelah memeluk Islam di masa awal dakwah, hidupnya berubah drastis. Ia menjadi sasaran kekejaman kaum Quraisy yang tidak menerima ajaran tauhid.

Baca Juga : Cuma 6 Hari, Pahalanya Setahun! Ini Keutamaan Puasa Syawal yang Jarang Disadari

Siksaan demi siksaan ia terima tanpa henti. Tubuhnya pernah dibaringkan di atas bara api, lalu batu panas diletakkan di punggungnya hingga kulitnya rusak. Rasa sakit yang luar biasa itu tidak membuatnya mundur. Justru di situlah keteguhan imannya diuji.

Allah telah mengingatkan dalam Alquran
"Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan berkata ‘kami beriman’ sementara mereka belum diuji" (QS. Al-Ankabut ayat 2)

Di tengah tekanan itu, Khabbab sempat mengadu kepada Rasulullah SAW. Ia datang saat Nabi berada di dekat Ka’bah, berharap ada pertolongan bagi kaum Muslimin yang tertindas.

Ia berkata,
"Wahai Rasulullah, tidakkah engkau memohonkan pertolongan untuk kami?"

Rasulullah SAW menjawab dengan kisah umat terdahulu yang menghadapi ujian lebih berat.
"Ada orang sebelum kalian yang disiksa, tubuhnya ditanam kecuali kepalanya, lalu digergaji, namun itu tidak memalingkannya dari agamanya. Ada pula yang disisir dengan besi hingga mengenai tulang, tetapi tetap teguh dalam iman. Demi Allah, agama ini akan disempurnakan..."

Jawaban itu bukan penolakan, melainkan penguatan. Khabbab tidak lagi mengeluh. Ia justru semakin mantap mempertahankan keyakinannya.

Baca Juga : BRUS Jadi Ujung Tombak Transformasi KUA dalam Membentuk Karakter Remaja

Penderitaan Khabbab juga datang dari mantan majikannya, Ummu Anmar. Ia disebut kerap menyiksa dengan cara kejam, termasuk menempelkan besi panas ke kepala Khabbab. Peristiwa ini sempat disaksikan Rasulullah SAW.

Melihat kondisi tersebut, Nabi berdoa,
"Ya Allah, tolonglah Khabbab."

Doa itu menjadi pengingat bahwa tidak ada kezaliman yang luput dari pengawasan Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan,
"Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah" (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam literatur sejarah Islam, termasuk dalam buku Biografi 60 Sahabat Rasulullah karya Khalid Muhammad Khalid, Khabbab digambarkan sebagai sosok yang ditempa oleh penderitaan, namun tidak pernah goyah dalam iman.