Qadha Puasa Ramadan Bisa Sekalian Puasa Syawal?

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

25 - Mar - 2026, 07:09

Ilustrasi berbuka puasa. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Bulan Syawal menjadi momen yang banyak dimanfaatkan umat Islam untuk melanjutkan ibadah puasa. Selain puasa qadha Ramadan, ada juga puasa sunah enam hari di bulan Syawal yang dikenal memiliki keutamaan besar.

Namun, muncul pertanyaan yang cukup sering dibahas, bolehkah niat puasa qadha Ramadan digabung sekaligus dengan puasa Syawal?

Baca Juga : Niat Puasa Qadha Ramadan di Bulan Syawal: Lengkap Arab, Latin, dan Tata Caranya

Adapun puasa sunah enam hari di bulan Syawal sangat dianjurkan. Hal ini merujuk pada keutamaan yang dijanjikan bagi orang yang menjalankannya setelah puasa Ramadan.

Disebutkan, orang yang berpuasa Ramadan lalu dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, pahalanya seperti berpuasa selama satu tahun penuh. Namun, bagaimana jika seseorang masih memiliki utang puasa Ramadan?

Dalam praktiknya, sebagian orang mencoba menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa Syawal. Secara hukum, hal ini memang menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Mengacu pada pendapat ulama dalam kitab klasik, disebutkan:

ولو صام في شوال قضاء أو نذرا أو غير ذلك ، هل تحصل له السنة أو لا ؟ لم أر من ذكره ، والظاهر الحصول. لكن لا يحصل له هذا الثواب المذكور خصوصا من فاته رمضان وصام عنه شوالا ؛ لأنه لم يصدق عليه المعنى المتقدم ، ولذلك قال بعضهم : يستحب له في هذه الحالة أن يصوم ستا من ذي القعدة لأنه يستحب قضاء الصوم الراتب ا هـ

Artinya,
Kalau seseorang mengqadha puasa, berpuasa nadzar, atau berpuasa lain di bulan Syawal, apakah mendapat keutamaan sunah puasa Syawal atau tidak? Saya tidak melihat seorang ulama berpendapat demikian, tetapi secara zahir, dapat. Tetapi memang ia tidak mendapatkan pahala yang dimaksud dalam hadits khususnya orang luput puasa Ramadhan dan mengqadhanya di bulan Syawal karena puasanya tidak memenuhi kriteria yang dimaksud. Karena itu sebagian ulama berpendapat bahwa dalam kondisi seperti itu ia dianjurkan untuk berpuasa enam hari di bulan Dzul qa’dah sebagai qadha puasa Syawal.”

Dari penjelasan tersebut, bisa disimpulkan bahwa menggabungkan niat qadha dengan puasa Syawal secara umum tetap sah. Namun, pahala keutamaan puasa Syawal yang disebutkan dalam hadits tidak didapat secara sempurna.

Lantas mana puasa yang harus didahulukan? Para ulama umumnya menganjurkan agar umat Islam mendahulukan puasa qadha Ramadan sebelum menjalankan puasa sunah Syawal.

Artinya, utang puasa wajib sebaiknya dilunasi terlebih dahulu. Setelah itu, barulah melaksanakan puasa sunah enam hari di bulan Syawal agar mendapatkan keutamaan penuh.

Baca Juga : Kalender Jawa Weton Rabu Legi 25 Maret 2026: Awas Mudah Tersulut Emosi

Penjelasan lain dari ulama juga menyinggung kondisi orang yang belum mengganti puasa Ramadan.

وَقَضِيَّةُ كَلَامِ التَّنْبِيهِ وَكَثِيرِينَ أَنَّ مَنْ لَمْ يَصُمْ رَمَضَانَ لِعُذْرٍ أَوْ سَفَرٍ أَوْ صِبًا أَوْ جُنُونٍ أَوْ كُفْرٍ لَا يُسَنُّ لَهُ صَوْمُ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ . قَالَ أَبُو زُرْعَةَ : وَلَيْسَ كَذَلِكَ : أَيْ بَلْ يُحَصِّلُ أَصْلَ سُنَّةِ الصَّوْمِ وَإِنْ لَمْ يُحَصِّلْ الثَّوَابَ الْمَذْكُورَ لِتَرَتُّبِهِ فِي الْخَبَرِ عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ . وَإِنْ أَفْطَرَ رَمَضَانَ تَعَدِّيًا حَرُمَ عَلَيْهِ صَوْمُهَا. وَقَضِيَّةُ قَوْلِ الْمَحَامِلِيِّ تَبَعًا لِشَيْخِهِ الْجُرْجَانِيِّ ( يُكْرَهُ لِمَنْ عَلَيْهِ قَضَاءُ رَمَضَانَ أَنْ يَتَطَوَّعَ بِالصَّوْمِ كَرَاهَةُ صَوْمِهَا لِمَنْ أَفْطَرَهُ بِعُذْرٍ

Artinya: “Masalah di Tanbih dan banyak ulama menyebutkan bahwa orang yang tidak berpuasa Ramadhan karena uzur, perjalanan, masih anak-anak, masih kufur, tidak dianjurkan puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Abu Zur‘ah berkata, tidak begitu juga. Ia tetap dapat pahala sunah puasa Syawal meski tidak mendapatkan pahala yang dimaksud karena efeknya setelah Ramadhan sebagaimana tersebut di hadits. Tetapi jika ia sengaja tidak berpuasa di bulan Ramadhan tanpa uzur, maka haram baginya puasa sunah. Masalah yang disebutkan Al-Mahamili mengikuti pandangan gurunya, Al-Jurjani. (Orang utang puasa Ramadhan makruh berpuasa sunah, kemakruhan puasa sunah bagi mereka yang tidak berpuasa Ramadhan karena uzur),” (Lihat Syamsuddin Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, cetakan ketiga, 2003 M/1424 H, juz III, halaman 208)”

Dari penjelasan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa jika tidak puasa karena uzur maka masih boleh puasa Syawal, tapi pahala tidak sempurna. Namun jika sengaja meninggalkan puasa Ramadan haram melakukan puasa sunah sebelum qadha. 

Dengan demikian, menggabungkan niat puasa qadha dan Syawal memang diperbolehkan menurut sebagian pendapat. Namun, keutamaan puasa Syawal tidak didapat secara maksimal.

Karena itu, yang lebih dianjurkan adalah menyelesaikan utang puasa Ramadan terlebih dahulu. Baru melanjutkan puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Dengan cara ini, ibadah menjadi lebih sempurna dan sesuai dengan anjuran para ulama. Semoga informasi ini bermanfaat.