FITK UIN Malang Luncurkan Forum Quranic Academic-Talks, Dorong Model Kajian Terintegrasi
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Nurlayla Ratri
17 - Mar - 2026, 06:30
JATIMTIMES - Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang mulai merumuskan pendekatan baru dalam pengembangan tradisi akademik melalui peluncuran program Quranic Academic-Talks. Inisiatif ini diperkenalkan dalam forum resmi yang berlangsung di Gedung Megawati belum lama ini, sekaligus menandai upaya fakultas membangun format diskusi ilmiah yang lebih terarah dan berbasis kerangka konseptual yang jelas.
Program tersebut diluncurkan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Basri, sebagai bagian dari strategi institusi dalam merespons kebutuhan integrasi keilmuan di lingkungan perguruan tinggi keagamaan. Dalam konteks ini, Quranic Academic-Talks tidak ditempatkan sekadar sebagai forum diskusi biasa, melainkan sebagai instrumen akademik yang diarahkan untuk membangun relasi metodologis antara disiplin ilmu dan sumber-sumber normatif keislaman.
Baca Juga : Pembangunan Gedung Sekolah Rakyat di Srigonco Bantur Malang Ditargetkan Selesai Juli 2026
Secara konseptual, program ini berangkat dari evaluasi internal terhadap pola pengembangan keilmuan yang selama ini dinilai masih berjalan secara parsial. Fragmentasi disiplin ilmu, yang kerap berdiri dalam sekat-sekat metodologis, dinilai memerlukan ruang temu yang mampu menjembatani pendekatan tekstual dan kontekstual secara lebih sistematis. Dalam kerangka itulah, FITK mencoba menghadirkan model diskusi yang tidak hanya membedah isu-isu akademik, tetapi juga mengaitkannya dengan konstruksi makna yang bersumber dari Al-Qur’an.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan FITK, Muh. Yunus, menyebut bahwa program ini dirancang untuk menggeser pola diskursus yang selama ini cenderung linier menjadi lebih integratif. “Kami melihat adanya kebutuhan untuk merumuskan ulang cara pandang terhadap ilmu pengetahuan. Melalui Quranic Academic-Talks, kami ingin menghadirkan forum yang mampu mempertemukan analisis akademik dengan perspektif Al-Qur’an dalam kerangka yang lebih terstruktur,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setiap sesi dalam program ini akan disusun berbasis tema, dengan melibatkan narasumber dari beragam latar belakang keilmuan. Pendekatan multidisipliner menjadi kunci, sehingga pembahasan tidak terjebak pada satu sudut pandang tertentu. Dengan model seperti ini, fakultas berharap muncul elaborasi gagasan yang lebih kaya sekaligus membuka ruang dialektika yang lebih luas di kalangan akademisi.
Dalam perspektif kelembagaan, langkah ini juga mencerminkan upaya FITK untuk memperkuat identitas akademik sebagai fakultas yang mengedepankan integrasi ilmu dan nilai keislaman. Bukan hanya pada tataran wacana, tetapi juga pada level praksis akademik yang terukur melalui forum-forum ilmiah yang berkelanjutan. Dengan demikian, program ini diarahkan menjadi bagian dari ekosistem keilmuan yang mampu membentuk pola pikir kritis sekaligus reflektif.
Di sisi lain, kehadiran Quranic Academic-Talks UIN Malang juga dapat dibaca sebagai respons terhadap tantangan global dalam dunia pendidikan tinggi, di mana tuntutan terhadap relevansi ilmu pengetahuan semakin tinggi. Perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menghasilkan kajian teoritis, tetapi juga dituntut mampu menghadirkan kerangka nilai yang memberikan arah bagi pengembangan ilmu itu sendiri. Dalam konteks ini, integrasi dengan Al-Qur’an diposisikan sebagai salah satu sumber rujukan epistemologis yang dianggap memiliki daya dorong normatif sekaligus filosofis.
Baca Juga : MIN 1 Kota Malang Terapkan Skema Terpusat dalam Penyaluran Zakat Fitrah
Ke depan, FITK merencanakan pengembangan lebih lanjut dari program ini, termasuk memperluas jejaring kolaborasi dengan akademisi lintas institusi. Langkah ini dimaksudkan agar forum yang dibangun tidak bersifat eksklusif, melainkan terbuka terhadap pertukaran gagasan yang lebih luas. Dengan desain seperti ini, Quranic Academic-Talks diharapkan tidak hanya menjadi agenda internal fakultas, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk lanskap diskursus akademik yang lebih integratif di lingkungan perguruan tinggi keagamaan.
Melalui pendekatan yang dirancang secara sistematis tersebut, FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tampak berupaya menempatkan integrasi ilmu dan nilai bukan sekadar sebagai jargon institusional, melainkan sebagai kerangka kerja yang dioperasionalkan dalam praktik akademik sehari-hari. Program ini, pada akhirnya, akan diuji bukan hanya pada aspek konseptual, tetapi juga pada sejauh mana ia mampu menghasilkan tradisi diskusi yang produktif dan berkelanjutan di kalangan civitas akademika.
