Jeng Ayud, Olahan Ikan Rumahan yang Kini Suplai Restoran

Reporter

Riski Wijaya

Editor

Yunan Helmy

24 - Mar - 2026, 08:17

Owner Jeng Ayud, Anto.(Foto: Istimewa).

JATIMTIMES - Di sebuah lapak sederhana, deretan produk olahan ikan tertata rapi. Ada bandeng presto, bandeng cabut duri, hingga katsu ikan dori dan kakap yang siap dimasak. Produk-produk ini dikenal dengan merek Jeng Ayud, usaha olahan ikan yang dirintis oleh Anto sejak 2018.

Berawal dari usaha rumahan, Anto mengembangkan berbagai varian olahan ikan yang praktis dikonsumsi. Ia menyebut produknya sengaja dibuat agar memudahkan konsumen yang ingin memasak tanpa proses yang rumit.

Baca Juga : Jeng Ayud, Olahan Ikan Rumahan yang Kini Suplai Restoran

“Yang kita jual aneka olahan ikan. Ada bandeng presto, bandeng cabut duri, katsu dari dori dan kakap, fillet belut, sampai teri nasi,” ujar Anto.

Menariknya, sebagian bahan baku ikan yang diolah berasal dari hasil budidaya sendiri. Anto membudidayakan ikan nila merah di Bangil, Pasuruan, yang juga merupakan kampung halamannya. Selain itu, bandeng yang diolah  berasal dari tambak miliknya di daerah yang sama.

Proses produksi pun dilakukan bertahap. Bahan baku diolah terlebih dahulu di Bangil, kemudian dikirim ke Malang untuk proses pengolahan lanjutan hingga siap dipasarkan.

“Produksi awalnya di Bangil, lalu dikirim ke Malang untuk proses bersihnya. Soalnya kalau di sini pengolahan limbahnya lebih sulit, kalau di sana bisa dimanfaatkan lagi untuk pakan ternak,” jelasnya.

Dalam memasarkan produknya, Anto lebih banyak mengandalkan penjualan secara online. Meski begitu, ia juga membuka toko kecil di rumah sebagai tempat pelanggan datang langsung membeli produk.

Tak hanya melayani konsumen rumah tangga, usaha Jeng Ayud juga menjadi pemasok ikan bagi sejumlah restoran dan hotel. Saat ini, setidaknya ada empat restoran di Malang yang rutin menerima suplai ikan dari usahanya.
Jangkauan pemasaran pun perlahan meluas. 

Produk ikan beku milik Anto pernah dikirim hingga luar kota, salah satunya ke Bandung. “Selama masih bisa dijangkau ekspedisi yang punya freezer box, kita bisa kirim ke luar kota. Pernah sampai Bandung juga,” ujarnya.

Baca Juga : 10 Rekomendasi Kafe di Kota Blitar, Cocok untuk Halalbihalal Saat Lebaran

Untuk menjaga kualitas produk, penyimpanan menjadi hal penting. Dalam kondisi suhu normal, ikan segar hanya dapat bertahan sekitar 12 jam. Namun jika disimpan dalam lemari pendingin, produk bisa bertahan hingga tiga hari. Sementara dalam freezer, masa simpannya dapat mencapai beberapa bulan.

Dalam perjalanan usahanya, Anto juga pernah terlibat dalam berbagai program pemberdayaan UMKM. Ia beberapa kali mewakili pelaku usaha binaan Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) dalam berbagai kegiatan.

Usahanya kini juga telah mengantongi izin P-IRT serta sertifikasi halal, yang semakin memperkuat kepercayaan konsumen.

Bagi Anto, membangun usaha olahan ikan bukan sekadar soal berjualan. Ia ingin memastikan kualitas bahan baku hingga proses produksi tetap terjaga, mulai dari tambak hingga sampai ke tangan konsumen. “Yang penting kualitasnya tetap kita jaga,” pungkasnya.