Puasa Ramadan dan Konsep Body Revival, Refleksi Kesehatan Holistik Seorang Muslim

05 - Mar - 2026, 09:18

Dosen FST UIN Maliki Malang, Dr. Umaiyatus Syarifah, M.A (ist)

JATIMTIMES – Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Di balik ibadah puasa, tersimpan konsep besar tentang pemulihan diri atau body revival yang menyentuh fisik, psikis, hingga kesadaran spiritual. 

Pesan itu disampaikan Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, Dr. Umaiyatus Syarifah, M.A, dalam Podcast Ramadan yang belum lama ini digelar.

Baca Juga : Ramalan Zodiak 5 Maret 2026: Kejutan Tak Terduga Mengguncang Hari Ini, Siapa Paling Beruntung?

Menurutnya, puasa memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada ritual tahunan. Ia menegaskan bahwa Ramadan adalah madrasah pembentukan manusia seutuhnya. “Dalam Al Quran, kewajiban puasa memuat empat nilai utama. Ada nilai normatif, purifikatif, preventif, dan preservatif,” ujarnya, dikutip dari channel UIN Maliki Malang, Kamis, (5/3/2026).

Nilai normatif merujuk pada kewajiban setiap muslim yang telah baligh untuk berpuasa. Namun di balik kewajiban itu, ada dimensi purifikatif atau proses penyucian diri. Puasa mendorong seseorang membersihkan hati, pikiran, dan perilaku, sehingga tujuan takwa menjadi lebih nyata.

Tak berhenti di situ, puasa juga bersifat preventif. Ia menjadi tameng agar seseorang tidak mudah terjerumus pada perilaku merugikan, baik terhadap sesama maupun lingkungan. Sementara nilai preservatif bermakna pemeliharaan, termasuk menjaga kesehatan tubuh.

Hadis sumu tasihhu atau berpuasalah maka kamu akan sehat, menurutnya, relevan dihidupkan dalam konteks kekinian. Ia menyebut konsep body revival sebagai upaya menghidupkan kembali sunah Nabi dalam pola hidup sehari-hari, bukan sekadar dalam ritual formal.

“Sunah itu tidak hanya soal ibadah mahdhah. Ia juga mengajarkan etika tubuh, kebiasaan hidup, hingga cara menjaga keseimbangan fisik dan psikis,” jelasnya.

Ia mencontohkan kebiasaan Nabi yang terekam secara detail oleh keluarga dan para sahabat. Dari bangun tidur, merawat diri, hingga pola makan. Nabi dikenal menjaga kebersihan, menggunakan wewangian, berpakaian bersih, serta memperhatikan asupan makanan.

Dalam konteks nutrisi, Nabi menganjurkan berbuka dengan yang manis dan minum air putih untuk menjaga hidrasi. Beliau juga mengonsumsi sayuran seperti labu, serta buah-buahan seperti semangka dan melon. Roti gandum menjadi pilihan yang kaya nutrisi, dengan pola konsumsi sederhana dan tidak berlebihan.

Kesederhanaan itu, kata dia, mengandung pesan sosial yang kuat. Sunah Nabi tidak eksklusif dan tetap bisa dijangkau semua kalangan. Jika standar hidup yang dicontohkan terlalu tinggi dan mahal, maka akan sulit diikuti oleh masyarakat luas.

Selain fisik, kebutuhan psikis juga mendapat perhatian. Senyum, menolong sesama, dan bersedekah adalah energi positif yang memperkuat kesehatan mental. Ramadan menjadi momentum membangun kesalehan sosial, bukan hanya kesalehan individual.

Baca Juga : Pererat Silaturahmi Ramadan, Wali Kota Kediri Hadiri Buka Bersama Serta Santunan Anak Yatim dan Dhuafa

Ia juga menyinggung pentingnya keseimbangan antara nafsu dan akal. Nafsu bukan untuk dimusnahkan, melainkan dikendalikan. Akal berfungsi membedakan mana yang baik dan buruk bagi tubuh. Pola makan seimbang, tidak berlebihan, serta memberi ruang istirahat bagi organ pencernaan menjadi bagian dari ajaran Islam yang kerap diabaikan.

Ibadah tarawih dan salat malam, lanjutnya, turut melatih ketahanan fisik. Gerakan yang konsisten selama Ramadan membantu tubuh beradaptasi dan menjaga metabolisme. Puasa sekaligus melatih pengendalian emosi dan daya tahan diri.

Menanggapi anggapan bahwa puasa justru membuat sebagian orang merasa sakit, ia mengingatkan pentingnya memahami makna puasa secara utuh. Puasa hanya berlangsung sekitar 30 hari dalam setahun, namun manfaatnya dapat dirasakan lebih panjang jika nilai-nilainya diterapkan secara konsisten.

Ia juga mengingatkan bahwa puasa bukan hanya tradisi umat Nabi Muhammad. Para nabi terdahulu seperti Nabi Adam, Nabi Nuh, dan Nabi Daud juga menjalankan puasa dengan berbagai bentuk. Artinya, puasa adalah metode pendidikan spiritual dan penguatan karakter yang telah diwariskan sejak lama.

Setelah Ramadan usai, semangat body revival seharusnya tidak berhenti. Tilawah, salat malam, sedekah, serta pola hidup sehat perlu dijaga secara bertahap dan istiqamah. Tidak harus sekaligus, tetapi konsisten.

“Ramadan adalah ruang latihan untuk menghadirkan kembali nilai kenabian dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya bukan sekadar menahan lapar, tetapi membentuk manusia yang sadar, sehat, dan berkarakter,” tegasnya.