Mengintip Kesuksesan Bisnis Mie Gacoan: Jualan Murah Tapi Tetap Untung Triliunan? 

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

23 - Feb - 2026, 03:50

Tampak depan gerai Mie Gacoan. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Fenomena antrean panjang di depan gerai Mie Gacoan kerap bikin geleng-geleng kepala. Di tengah inflasi dan harga bahan pangan yang terus naik, restoran ini tetap menjual mie dengan harga sekitar Rp 10 ribuan. Namun di saat yang sama, valuasi perusahaannya disebut sudah menyentuh angka triliunan rupiah.

Dilansir dari YouTube Merdeka Finansial, Senin (23/2/2026), kondisi ini disebut sebagai anomali di dunia bisnis modern. Sebab dalam hukum dagang konvensional, harga murah identik dengan margin tipis dan sulit meraup untung besar.

Baca Juga : Alfamart Bagi 60 Ribu Paket Buka Puasa, 102 Warteg Ikut Kecipratan Berkah

“Pernahkah Anda berdiri di depan gerai mie gacoan dan merasa heran melihat lautan manusia yang rela antre berjam-jam hanya untuk sepiring mie seharga 10 ribu rupiah?” demikian dikutip dari tayangan tersebut.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin bisnis food and beverage (F&B) dengan harga merakyat bisa tetap sehat secara keuangan tanpa fenomena bakar uang seperti startup teknologi?

Dalam ulasannya disebutkan, kunci Gacoan bukan pada margin per porsi yang tebal, melainkan volume transaksi yang luar biasa besar. Rata-rata satu outlet mampu memproses ribuan porsi per hari dengan perputaran kursi (seat turnover) yang sangat cepat.

“Data ini memberikan gambaran bahwa kunci utama mereka bukan terletak pada margin keuntungan per porsi yang tebal, melainkan pada kecepatan dan kuantitas yang luar biasa tinggi untuk menutupi biaya tetap yang ada,” jelasnya.

Strategi ini dikenal dengan pendekatan efisiensi mesin. Artinya, Gacoan tidak bertarung di ranah keunikan rasa, melainkan memenangkan perang efisiensi dari hulu ke hilir.

Salah satu rahasianya adalah economies of scale atau skala ekonomi masif. Bahan baku seperti cabai, terigu, hingga ayam tidak dibeli dalam hitungan kilogram, melainkan tonase langsung dari produsen. Dengan ratusan outlet, daya tawar mereka terhadap pemasok jauh lebih kuat dibanding pemain F&B skala menengah.

Hasilnya, meski margin per porsi tipis, jika dikalikan jutaan porsi per bulan akan terakumulasi menjadi angka miliaran bahkan triliunan rupiah.

Selain itu, simplifikasi menu juga jadi kunci. Variasi menu sengaja dibatasi agar operasional tetap ramping. Hampir semua produk berbasis bahan baku serupa, yakni mie, ayam cincang, cabai, yang dibedakan hanya pada level pedas atau topping tambahan.

Strategi ini menekan food waste hingga mendekati nol karena perputaran bahan baku sangat cepat dan minim stok mengendap di gudang.

Baca Juga : Luncurkan Bazar Ramadan, Kelurahan Kaliombo Geliatkan UMKM Kota Kediri

Desain dapur pun dibuat seperti lini perakitan pabrik. Setiap staf memiliki peran spesifik dan repetitif, menciptakan speed of service tinggi sehingga pesanan bisa selesai dalam hitungan menit meski antrean mengular.

Tak hanya itu, Gacoan juga menerapkan strategi substitusi margin atau loss leader strategy. Produk utama, yakni mie, dijual dengan margin sangat tipis untuk menarik massa. Keuntungan lebih tebal justru berasal dari minuman dan makanan pendamping seperti dimsum atau udang keju.

“Anda mungkin merasa mienya sangat murah, tapi ketika Anda menambah es setan dan dua porsi dimsum, total belanja Anda sebenarnya sudah memberikan margin keuntungan yang sangat nyaman bagi perusahaan,” dikutip dari ulasan tersebut.

Strategi persepsi juga tak kalah penting. Gerai Gacoan umumnya berdiri di lahan luas dengan bangunan estetik dan modern di lokasi premium. Secara akuntansi terlihat berisiko untuk bisnis harga murah, namun secara psikologis menciptakan value perception tinggi di mata konsumen.

Konsumen merasa mendapatkan pengalaman makan yang ‘naik kelas’ dengan harga tetap terjangkau.

Secara keseluruhan, menurut ulasan YouTube Merdeka Finansial, Mie Gacoan menerapkan konsep yang disebut sebagai low cost culinary, dengan beberapa ciri. Mulai dari menu berbahan sejenis, desain dan peralatan dapur seragam, pelatihan karyawan yang sederhana, jumlah tenaga kerja efisien, operasional panjang bahkan 24 jam, serta membidik pasar bawah hingga menengah.

Dengan model seperti ini, kesuksesan Gacoan disebut bukan sekadar efek viral media sosial, melainkan hasil perhitungan matematis dan efisiensi operasional yang tepat.