Sebagai Mertua Sunan Drajat, Sunan Mayang Madu Jadi Penghubung Penting Champa Jawa dan Wali Songo

12 - Feb - 2026, 01:52

Makam Sunan Mayang Madu di Desa Drajat, Paciran, Lamongan

JATIMTIMES - Dalam sejarah Islamisasi Pesisir Utara Jawa, nama Sunan Mayang Madu menjadi salah satu tokoh penting yang sering terlupakan. Beliau bukan hanya seorang pendakwah, namun juga figur genealogis yang menghubungkan jalur Champa–Jawa dengan jaringan Wali Songo. 

Lebih dari itu, Sunan Mayang Madu adalah mertua Sunan Drajat, sehingga perannya tidak bisa dilepaskan dari perkembangan dakwah Islam di Lamongan dan sekitarnya.  

Baca Juga : Kronologi Guru SD di Jember Viral Telanjangi Siswa, Gegara Kehilangan Uang Rp 75 Ribu

Sunan Mayang Madu diyakini berasal dari garis keturunan Tapasi–Singosari–Champa, sebuah jalur genealogis yang sudah terjalin sejak era Raja Kertanegara melalui perkawinan politik dengan Raja Champa. Jalur ini memberi legitimasi sosial yang kuat, sehingga kehadiran beliau di Jawa lebih mudah diterima. 

Beliau menetap di Jelag, Tuban (kini Desa Banjarwati, Paciran, Lamongan). Bukti arkeologis berupa gapura makam bertahun 1440, menegaskan kehadirannya jauh sebelum berdirinya Kesultanan Demak.  

Hubungan dengan Sunan Drajat.

Sunan Drajat, putra Sunan Ampel, menikah dengan putri Sunan Mayang Madu yang dikenal dengan nama Kemuning/Kinanti. Pernikahan ini memperkuat jaringan dakwah sekaligus legitimasi genealogis antara keluarga Wali Songo dan tokoh Champa–Jawa. Dengan demikian, Sunan Mayang Madu bukan hanya tokoh dakwah, tetapi juga mertua Sunan Drajat yang memberi fondasi sosial bagi kiprah dakwah menantunya.  

Pengakuan Politik dari Raden Fatah

Ketika Raden Fatah mendirikan Kesultanan Demak sekitar tahun 1475 M, beliau memberikan penghargaan khusus kepada Sunan Mayang Madu. Wilayah Jelag dijadikan perdikan (wilayah bebas pajak) sebagai bentuk penghormatan atas jasa dakwahnya. Selain itu, Raden Fatah menganugerahkan gelar “Sunan Mayang Madu”, sebagaimana tercatat dalam Babad Tuban :  

Pengakuan ini menegaskan bahwa dakwah Sunan Mayang Madu tidak hanya diakui secara spiritual, tetapi juga dilegitimasi secara politik oleh kerajaan Islam pertama di Jawa.  

Baca Juga : Jelang Valentine, Ini 13 Rekomendasi Toko Bunga di Kota Malang

Warisan Sejarah

Peran Sunan Mayang Madu menunjukkan bahwa Islamisasi Nusantara bukan hanya hasil dakwah individual, melainkan juga perpaduan antara genealogi, politik, dan legitimasi sosial. Sebagai mertua Sunan Drajat, beliau menjadi penghubung penting antara jaringan Champa–Jawa dan Wali Songo. Gelar “Sunan” yang diberikan oleh Raden Fatah menegaskan posisi beliau sebagai tokoh yang dihormati dalam sejarah Islam Jawa.

Penulis : Rudi Hariono