Kayutangan Tertib, Semeru Macet: Penataan Parkir Masih jadi Pekerjaan Rumah

04 - Feb - 2026, 09:21

Ruas Jalan Basuki Rachmat menuju Jalan Semeru. (Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).

JATIMTIMES - Kelancaran lalu lintas di kawasan Kayutangan Heritage ternyata menyisakan pekerjaan rumah. Jalan Semeru justru berubah menjadi titik kemacetan baru, membuka fakta bahwa penataan parkir di pusat Kota Malang belum dirancang secara menyeluruh berbasis kawasan.

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang mengakui bahwa skema Gedung Parkir Kajoetangan belum memasukkan kebutuhan parkir Jalan Semeru. Akibatnya, arus kendaraan yang sebelumnya terdistribusi di Kayutangan kini menumpuk di ruas penghubung strategis tersebut.

Baca Juga : Campak Mengintai Anak Usia Sekolah di Kota Malang, Dinkes Turun Tangan Imunisasi Massal

“Memang untuk Jalan Semeru tidak ada satuan ruang parkir yang dihitung. Perencanaan gedung parkir masih fokus pada koridor Kayutangan,” ujar Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra.

Gedung Parkir Kajoetangan yang terkoneksi dengan parkir vertikal di Jalan Majapahit saat ini mampu menampung sekitar 800 kendaraan roda dua. Angka tersebut disusun berdasarkan kajian jumlah kendaraan yang sebelumnya parkir di badan jalan Kayutangan sebelum dilakukan penataan.

Namun, Dishub belum memperhitungkan efek pergeseran arus dan parkir ke ruas-ruas penyangga di sekitarnya. Jalan Semeru, yang menjadi simpul pergerakan menuju Jalan Arjuno dan Jalan Bromo, akhirnya menerima beban lalu lintas tambahan.

Kondisi tersebut diperparah oleh karakter kawasan Jalan Semeru yang dipenuhi usaha dengan intensitas kunjungan tinggi, namun tidak seluruhnya memenuhi ketentuan penyediaan ruang parkir. Bahkan terdapat pelaku usaha yang hanya memiliki kapasitas parkir terbatas untuk kendaraan roda empat.

“Itu sebenarnya tidak memenuhi syarat. Tapi kami tetap melakukan arahan dan pembinaan,” kata Jaya, sapaan akrabnya.

Baca Juga : Harlah 1 Abad NU, Aktivitas Olahraga di Stadion Gajayana Dihentikan Sementara

Dishub menegaskan, meski perencanaan belum sepenuhnya terintegrasi, pengaturan lapangan tetap dilakukan untuk menekan dampak kepadatan. Penertiban parkir di jalur hijau dan titik larangan parkir terus dilakukan melalui pengawasan juru parkir dan petugas.

“Kami tidak membiarkan begitu saja. Arahan dan pengendalian tetap berjalan,” tegasnya.

Fenomena Jalan Semeru menjadi cerminan bahwa penataan lalu lintas tidak cukup hanya merapikan satu koridor. Tanpa pendekatan kawasan secara utuh, keberhasilan di satu titik berpotensi memindahkan masalah ke titik lainnya.