Tradisi Sadranan di Boyolali: Peziarah Makan Bersama di Kuburan
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Dede Nana
28 - Feb - 2025, 03:47
JATIMTIMES - Menjelang bulan suci Ramadan, umat Islam di berbagai daerah memiliki tradisi mengunjungi makam leluhur dan kerabat yang telah berpulang. Namun, ada pemandangan unik yang menjadi sorotan di Boyolali.
Dalam sebuah video yang beredar di akun Instagram @undercover.id, tampak beberapa peziarah membawa nasi dan lauk, serta makan bersama di makam. Suasananya sekilas seperti piknik di area pemakaman.
Dalam video tersebut, terlihat sepasang pria dan wanita duduk bersila di atas tikar di antara nisan makam. Keduanya asyik ngobrol sambil menyantap makanan yang mereka bawa.
Tak jauh dari mereka, terdapat wadah berupa lingkaran penuh lauk dan nasi yang dibiarkan terbuka di sebelah makam. Ternyata, bukan hanya pasangan itu saja, banyak warga lain yang juga melakukan hal yang sama.
"Tradisi jelang puasa Ramadan di Boyolali," tulis akun @undercover.id dalam keterangan videonya.
Fenomena yang viral ini sebenarnya bukan sekadar makan bersama di kuburan, melainkan bagian dari tradisi sadranan yang sudah berlangsung turun-temurun di Boyolali, terutama di Kecamatan Cepogo. Salah satu tempat yang rutin menggelar sadranan adalah Makam Puroloyo, Desa Sukabumi. Tahun ini, acara tersebut berlangsung pada Sabtu (15/2/2025) pagi, diikuti oleh warga Desa Sukabumi dan sekitarnya.
Tak hanya dari Sukabumi, warga desa lain di kawasan Cepogo juga ikut hadir. Mereka datang dengan membawa makanan dalam tenong, yaitu wadah makanan berbentuk bulat yang terbuat dari aluminium atau anyaman bambu. Isinya beragam, mulai dari jajanan pasar seperti kacang godok, pisang, agar-agar, hingga klepon. Ada juga yang membawa makanan ringan untuk anak-anak.
Salah satu peserta sadranan, Purwanto, warga Desa Mliwis, Cepogo, mengungkapkan bahwa makanan yang dibawanya sebagian disiapkan oleh ibunya dan sebagian dibeli di pasar.
"Kami membawa makanan ini untuk dibagikan kepada keluarga dan warga yang datang. Setelah berdoa untuk para leluhur, kami makan bersama di makam," ujar Purwanto, dilansir Detikcom, Jumat (28/2/2025).
Sadranan biasanya dilaksanakan pada pertengahan bulan Ruwah atau Syakban dalam penanggalan Jawa. Tradisi ini bertujuan untuk mendoakan leluhur dan orang tua yang telah meninggal dunia. Tak hanya warga setempat, orang-orang yang berasal dari desa tersebut tetapi tinggal di luar daerah juga pulang kampung untuk mengikuti sadranan.
Setelah meletakkan tenong di makam keluarga masing-masing, mereka menggelar doa bersama. Makanan yang dibawa lalu dibagikan dan disantap bersama-sama di area pemakaman.
Menurut K.H. Maskuri, sesepuh Desa Sukabumi, tradisi ini sudah ada sejak ulama Syekh Ibrahim, atau yang dikenal sebagai Mbah Bonggol Jati, datang ke Cepogo untuk berdakwah.
Dalam tradisi ini, ada istilah besik, yang berarti datang untuk membersihkan makam dan mendoakan keluarga yang telah berpulang. Maskuri menjelaskan bahwa istilah besik ini mirip dengan besuk, yang berarti menjenguk orang sakit.
Di beberapa daerah di Boyolali, sadranan tidak hanya berisi doa bersama, tetapi juga berlanjut dengan silaturahmi, mirip dengan suasana Hari Raya Idul Fitri. Masyarakat akan saling mengunjungi rumah kerabat setelah selesai acara di makam.
"Tradisi sadranan ini sudah berlangsung turun-temurun sejak zaman nenek moyang dahulu. Dilaksanakan di bulan Syaban menjelang Ramadan untuk mendoakan para leluhur," kata Jaman, tokoh masyarakat sekaligus Ketua RW 04 Desa Sruni, Boyolali.
Acara ini tidak hanya diikuti oleh warga lokal, tetapi juga mereka yang memiliki leluhur yang dimakamkan di kawasan tersebut. Sadranan biasanya diawali dengan bubak, yaitu kegiatan bersih-bersih makam yang dilakukan sehari sebelumnya. Warga bergotong royong mencabut rumput liar dan merapikan area pemakaman.
Acara sadranan biasanya dimulai dengan pembacaan zikir dan tahlil yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Setelah berdoa, makanan yang dibawa dari rumah dibuka dan dibagikan kepada sesama. Uniknya, dalam sadranan ini, warga tidak hanya makan makanan yang mereka bawa, tetapi juga boleh mengambil makanan dari tenong milik orang lain.
