Viral! Wagub Jakarta Rano Karno Dikritik gara-gara Parkir di Area Penurunan Penumpang MRT
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Yunan Helmy
26 - Feb - 2025, 08:58
JATIMTIMES - Sebuah video viral di media sosial menyoroti kritik
terhadap Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno. Kritik ini datang dari seorang pengguna TikTok, Jilal Mardhani, yang mengungkapkan kekesalannya setelah melihat kendaraan rombongan Rano Karno diparkir di area yang seharusnya digunakan untuk menurunkan penumpang di Stasiun MRT Lebak Bulus.
Dalam video yang diunggah di akun TikTok @jilal.mardhani, tampak Jilal menunjukkan mobil dinas B 1086 PDT yang terparkir di area penurunan penumpang MRT. Dengan nada kecewa Jilal Mardhani menyampaikan, "Ran, Sorry ya, loe temen gue, tapi kok jadi brengsek kayak gini lho. Ini tempat publik lo, apa-apaan loe kayak gini. Hah. Loe baru jadi wagub dah belagu kayak gini loe."
Jilal menjelaskan bahwa dirinya selalu menyempatkan waktu untuk mengantar anaknya ke Stasiun MRT Lebak Bulus sebelum berangkat kerja. Ia pun cukup memahami kondisi di sekitar stasiun tersebut.
Menurut dia, sering area penurunan penumpang yang telah disediakan dalam keadaan kosong, karena kebanyakan pengguna MRT lebih memilih turun di sisi jalan, meskipun itu sebetulnya dilarang.
"Saya tahu petugas yang ada di sana kewalahan, sehingga mereka tidak bisa menghela secara sempurna. Banyak atau masih banyak kendaraan-kendaraan, baik sepeda motor maupun mobil, yang berhenti di sana (di sisi jalan)," jelas Jilal.
Meskipun begitu, ia tetap berusaha untuk menaati aturan dengan masuk ke area perhentian resmi meskipun harus antre di tengah kemacetan. Hal itu ia lakukan agar anaknya bisa turun dengan aman dan lebih mudah berjalan menuju stasiun.
Namun, pagi itu, Jilal dibuat kesal karena melihat kendaraan rombongan Rano Karno justru berhenti dan diparkir di area penurunan penumpang yang ada di depan gereja di seberang Stasiun MRT Lebak Bulus.
"Di sana ada dua area sebetulnya untuk menurunkan penumpang, satu lagi yang berada di depan Point Square yang relatif kosong, karena memang jaraknya cukup jauh untuk berjalan kaki menuju stasiun MRT, walaupun sudah disediakan dengan fasilitas yang sangat nyaman," ujar Jilal.
Menurut dia, Rano Karno seharusnya memahami bahwa tindakan tersebut sangat mengganggu pengguna MRT lainnya. Apalagi, Rano diketahui tinggal tidak jauh dari tempat kediamannya, sehingga ia pasti tahu kondisi sekitar.
"Seandainya pun dia tidak atau jarang menggunakan MRT, sudah sepatutnya dia tahu bahwa itu bukanlah tempat memarkirkan kendaraan," tambahnya.
Jilal juga menduga bahwa Rano mungkin bisa berkilah bahwa ia tidak tahu soal kendaraan rombongan yang diparkir di sana. Namun, sebagai pemimpin, Rano seharusnya menegur anak buahnya untuk menaati aturan.
Jilal menilai bahwa seorang pemimpin seharusnya bisa memberi contoh yang baik bagi masyarakat. Ia mempertanyakan mengapa Rano harus datang dengan rombongan sebanyak itu ke MRT.
"Dia tidak perlu berombongan segitu banyak untuk ke MRT. Atau kalaupun dia datang dengan rombongan banyak, setelah turun, suruh jalan kendaraan itu. Kenapa harus parkir di situ?" katanya dengan nada kesal.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa MRT adalah fasilitas umum yang dioperasikan menggunakan pajak masyarakat, termasuk untuk membayar gaji para pejabat dan operasionalnya. Oleh karena itu, ia menilai tidak sepantasnya ada pejabat yang bertindak sewenang-wenang seperti itu.
"MRT itu dioperasikan dengan menggunakan pajak masyarakat, termasuk untuk membayar gaji kalian dan operasional kalian. Tidak sepatutnya kalian berlaku semena-mena seperti itu, seolah-olah kalian rajanya," tegas Jilal.
Ia juga meragukan bahwa ada hal mendesak yang membuat kendaraan rombongan Rano harus berhenti di sana. "Tidak ada sesuatu yang urgent, saya yakin itu tidak ada sesuatu yang urgent, sehingga kendaraan rombongan yang mengiringi Rano Karno tadi pagi harus berhenti di sana," katanya lagi.
Sebagai seseorang yang mengaku memahami sejarah pembangunan MRT, Jilal menyoroti bahwa tantangan terbesar dalam menghadirkan transportasi massal bukan hanya membangun infrastrukturnya, tetapi juga mengubah perilaku masyarakat.
"Dan satu hal yang paling sulit ketika kita melakukan sesuatu yang baik, seperti menyediakan angkutan umum massal MRT ini, itu adalah mengubah perilaku masyarakat," ujarnya.
Menurut dia, perubahan perilaku itu harus dimulai dari para pemimpinnya.
"Saya kira klarifikasi ini cukup untuk menjelaskan kepada Rano, mengapa saya sangat kesal tadi pagi," pungkas Jilal.
Usut punya usut, peristiwa itu terjadi pada Selasa (25/2/2025). Saat itu Wakil Gubernur (Wagub) Jakarta Rano Karno melakukan peninjauan infrastruktur transportasi publik MRT dan Transjakarta sekaligus memanfaatkan transportasi massal berbasis rel dan BRT menuju Balai Kota Jakarta.
Peninjauan dimulai dari Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jakarta Marullah Matali; Asisten Perekonomian dan Keuangan (Asperkeu) Sekda Jakarta Suharini Eliawati; Kepala Dinas Perhubungan Jakarta Syafrin Liputo; Kepala Satpol PP Jakarta Satriadi Gunawan dan Dirut PT Transjakarta Welfizon Yuza.
Seusai melakukan peninjauan di Stasiun MRT Lebak Bulus, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Blok M dan mengakhirinya di Stasiun Bundaran HI.
Rano juga melakukan pengecekan ke Halte Transjakarta Bundaran HI dan melanjutkan perjalanannya ke Balai Kota menggunakan bus Transjakarta.
