JATIMTIMES - Pada bulan November 1974, ketika Timor Portugis (sekarang Timor Leste) berada di tengah gejolak politik dan konflik internal, Koes Plus melakukan perjalanan bersejarah ke Dili.
Band legendaris Indonesia ini, yang kala itu tengah berada di puncak popularitas, bukan hanya membawa alunan musik mereka ke panggung internasional tetapi juga menjadi bagian dari misi yang jauh lebih besar: mendeteksi dukungan pro-Indonesia di wilayah yang bergolak.
Baca Juga : Cara Melihat Live Score Seleksi Kompetensi PPPK Periode I 2024
Misi ini bukan tanpa risiko. Dalam perjalanan menuju gedung pertunjukan di Dili, bus yang membawa Tonny Koeswoyo, Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo, dan Murry dilempari batu oleh kelompok yang tidak sepakat dengan rencana integrasi Timor Timur ke Indonesia.
Kaca-kaca jendela bus pecah, suara tembakan terdengar dari berbagai arah, memaksa seluruh penumpang, termasuk anggota Koes Plus, merunduk di lantai bus demi keselamatan.
“Kami semua ketakutan, tiarap di lantai bus,” kenang Yok Koeswoyo, menggambarkan ketegangan yang menyelimuti perjalanan tersebut.
Namun, semua kecemasan itu sirna begitu rombongan tiba di gedung pertunjukan. Ribuan penggemar menyambut mereka dengan sorakan dan tepuk tangan meriah, membuktikan bahwa popularitas Koes Plus melampaui batas budaya dan politik.
Dalam suasana yang penuh euforia, konser tersebut menjadi momentum penyatuan, setidaknya untuk malam itu. Lagu-lagu seperti Kolam Susu dan Bujangan menggema di aula, membawa rasa damai di tengah konflik.
Koes Plus dan Jejak Politik di Era Orde Baru
Koes Plus, yang dibentuk pada tahun 1969, dikenal sebagai salah satu pionir musik pop dan rock and roll di Indonesia. Dengan anggota Tonny Koeswoyo (gitar dan vokal), Yon Koeswoyo (vokal utama), Yok Koeswoyo (bass), dan Murry (drum), band ini menjadi simbol era baru musik Indonesia.
Namun, perjalanan mereka tidak sepenuhnya tentang musik. Bahkan sejak era Koes Bersaudara, politik selalu menjadi bayangan di balik perjalanan karier mereka.
Jika pada masa Presiden Soekarno, Koes Bersaudara pernah ditahan karena dianggap membawa pengaruh budaya Barat, di era Soeharto, Koes Plus justru digunakan sebagai alat diplomasi kultural.
Perjalanan ke Timor Portugis adalah salah satu contohnya. Dengan nama besar Koes Plus, pemerintah Orde Baru berharap mampu menarik simpati masyarakat lokal dan menunjukkan kekuatan budaya Indonesia di tengah konflik antarpartai di wilayah tersebut.
Misi ini adalah bagian dari Operasi Khusus (Opsus) yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Ali Moertopo. Opsus dirancang untuk mendukung integrasi Timor Timur ke Indonesia, yang akhirnya terwujud pada tahun 1976. Koes Plus, dengan segala daya tarik mereka, dianggap sebagai duta sempurna untuk menjalankan misi tersebut.
Insiden dan Euforia di Dili
Konsentrasi politik yang tinggi di Dili pada saat itu menciptakan suasana yang rawan konflik. Ketua Partai Fretilin, Xavier Du Amaral, dengan tegas membantah bahwa partainya menjadi penyebab kerusuhan yang terjadi saat Koes Plus berada di sana. Namun, kenyataannya, perjalanan mereka tidak pernah lepas dari risiko.
Ketegangan mulai terasa sejak rombongan Koes Plus transit di Kupang sebelum melanjutkan perjalanan ke Dili. Ketika mereka tiba, kota tersebut sudah berada dalam situasi panas akibat persaingan antarpartai. Meski begitu, konser yang mereka gelar di sebuah gedung di pusat kota menjadi peristiwa tak terlupakan.
Baca Juga : PDIP Bakal Pecat 27 Kader yang Dukung Paslon Lain, Termasuk Jokowi dan Keluarganya?
“Ketika kembali ke Hotel Turismo, orang-orang menggedor-gedor mobil kami sambil berteriak, 'Koes Plus bom grupo de musica. Viva Presidente Soeharto!'” cerita Yok Koeswoyo, menggambarkan sambutan hangat masyarakat Dili kepada mereka.
Setelah konser berakhir, rombongan Koes Plus kembali ke Jakarta pada 13 November 1974. Mereka disambut oleh Mayjen Ali Moertopo dan Menteri Luar Negeri Adam Malik. Namun, ada kejadian ganjil: paspor mereka langsung diminta dan tidak dikembalikan. Langkah ini menunjukkan betapa seriusnya pemerintah mengontrol setiap detail dari misi ini.
"Da Silva": Lagu Persembahan untuk Timor Timur
Pengalaman mereka di Timor Portugis meninggalkan jejak mendalam, baik secara emosional maupun musikal. Pada 5 Juli 1976, enam bulan setelah integrasi Timor Timur ke Indonesia, Koes Plus merilis lagu Da Silva.
Lagu ini dipersembahkan untuk masyarakat Timor Timur, menggambarkan kedekatan emosional yang mereka rasakan dengan penduduk di sana, meski sempat menghadapi momen-momen menegangkan.
Da Silva adalah bukti bahwa musik mampu melampaui batas-batas politik. Dengan lirik sederhana dan melodi khas Koes Plus, lagu ini menjadi simbol harapan dan persatuan di tengah konflik yang terjadi.
Legacy Koes Plus: Musik dan Diplomasi Budaya
Perjalanan Koes Plus ke Timor Portugis bukan hanya bagian dari sejarah musik Indonesia, tetapi juga bagian dari sejarah diplomasi budaya. Di tengah ketegangan politik, musik mereka menjadi jembatan antara Indonesia dan masyarakat Timor Timur.
Momen ini menunjukkan bagaimana seni, terutama musik, dapat digunakan sebagai alat untuk menciptakan hubungan yang lebih dalam di luar urusan politik semata.
Bagi Koes Plus, pengalaman ini menambah lapisan lain dalam karier mereka yang sudah penuh warna. Mereka tidak hanya dikenal sebagai grup musik paling produktif dan ikonik pada era 1970-an, tetapi juga sebagai bagian dari upaya diplomasi budaya Indonesia.
Meski perjalanan tersebut membawa risiko besar, kisahnya menjadi bukti kekuatan musik sebagai alat yang mampu menyatukan orang-orang bahkan di tengah perpecahan. Dan bagi Koes Plus, ini adalah salah satu babak yang menegaskan tempat mereka sebagai legenda sejati musik Indonesia.