JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Butuh Penganekaragaman, Ketua Fordewi Sebut Program Gumelar-Rudi Bisa Majukan Pariwisata Berbasis Desa

Reporter: Prasetyo Lanang • Editor: Yunan Helmy
📅 6 November 2024, 20:36 WIB • ⏱️ 3 menit baca

JATIMTIMES - Diversifikasi atau penganekaragaman menjadi kebutuhan sektor pariwisata di Kota Batu, khususnya di desa-desa. Selama ini pengembangan yang dilakukan dinilai banyak yang berfokus pada wisata buatan. Sementara wisata di desa belum sepenuhnya terangkat. 

Pegiat desa wisata menekankan hak tersebut pada calon kepala daerah (cakada) yang baru nanti. Hal tersebut disampaikan Ketua Forum Desa Wisata (Fordewi) Kota Batu Mochammad Dadi. 

Baca Juga : Prodi Tadris Bahasa Inggris UIN Malang Raih Akreditasi "Unggul"

Menurut dia, potensi wisata di Kota Batu selain wisata buatan sangatlah besar. Apalagi wisata yang berbasis desa. Dengan 19 desa dan 5 keluharan, masing-masing wilayah memiliki keunikan dan daya tarik wisatanya sendiri-sendiri. 

"Ada yang menjadi kampung batik, kampung gamelan, kampung sayur dan buah, serta magnet wisata lainnya yang berbasis di desa. Tapi belum sepenuhnya terangkat. Wali kota Batu yang baru nanti harus bisa membangun wisata Kota Batu bukan hanya berfokus dari sisi wisata artifisial saja. Namun bisa berbasis sejarah, budaya, dan hasil alam," jelas Dadi, Rabu (6/11/2024).

Sebagai pegiat desa wisata, pihaknya ingin pembangunan wisata bukan hanya dari wisata artifisial, namun juga yang berkonteks dengan alam. Ia mengatakan, saat ini wisatawan yang datang ke Kota Batu sudah menganggap bahwa Batu seperti kampung halamannya sendiri. Sehingga mereka mau kembali lagi ke Batu.

"Tetapi cepat atau lambat, para wisatawan itu akan ada bosannya jika wisata di Kota Batu itu-itu saja. Namun jika diberi pilihan-pilihan lain yang beragam, memiliki kesan bagi mereka, dipastikan tidak akan bosan dan terus kembali," jelasnya.

Sebagai kota wisata tersohor di Jatim, kata Dadi, pemerintah harus mendukung secara total pembangunan desa wisata. Sehingga para pegiat desa wisata bisa berinovasi dan lebih giat lagi untuk membangun wisata berbasis desa. Jika tidak didukung, maka pegiat desa wisata tidak bisa leluasa untuk mengekspresikan keinginan melalui inovasi.

"Salah satunya memudahkan pengurusan izin pembangunan pusat wisata di desa. Para pegiat desa wisata bisa aktif dan ikut andil dalam kemajuan wisata kota," katanya.

Baca Juga : BHS: Saya Minta Pemerintah Jadikan PMI Duta Wisata di Luar Negeri 

Dalam menjawab kebutuhan dan keinginan para pegiat desa wisata di Kota Batu itu, Dadi menilai pasangan calon kepala daerah Firhando Gumelar-Rudi memiliki program yang relevan. Ia menyebut, para pengelola desa wisata di Kota Batu sudah pernah diskusi dengan Gumelar terkait cara mengangkat wisata berbasis desa.

Ia juga menuturkan paslon dengan sebutan GURU itu memiliki program 1 desa 1 wisata. Yang mana menurut dia jika terwujud akan membangun wisata Kota Batu dari desa-desanya.

Terkait dengan sampah karena dampak wisata, Dadi juga melihat paslon nomor urut 2 itu memiliki komitmen dalam menyelesaikan sampah di Kota batu. Selain pengelola desa wisata sudah ditunjukan blue print dan desain besar penyelesaian masalah sampah dari paslon tersebut. Selain itu, dijanjikan 10 bulan masalah sampah di Kota Batu akan beres.

"Kami sudah pernah diskusi dengan Mas Gum. Ada korelasi yang keinginan kami dengan programnya. Salah satunya mengembangkan smart city di Kota Batu. Harapannya dengan itu pembangunan desa wisata bisa lebih kuat lagi utamanya di dunia digital. Kami berharap ini terealisasi karena memang ini keinginan kami sejak lama," katanya.

Topik Terkait
# Pilkada Kota Batu# pasangan GURU# desa wisata

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap