JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Seribu Asa Seorang Sahabat

Reporter: Abd. Aziz • Editor: Redaksi
📅 20 Juli 2024, 17:09 WIB ⏱️ 3 menit baca

JATIMTIMES - Kerap janjian meeting di Ibu Kota. Namun, batal karena masing-masing dinanti kesibukan. Jika Allah yang mengatur, tak ada yang tak mungkin.

 

Baca Juga : Netizen Soroti Jenazah Dali Wassink yang Dikremasi Padahal Mualaf, Ini Hukumnya dalam Islam

Itulah gambaran perjumpaan saya dengan sahabat Ali Imron, yang sama-sama sarungan di Pondok Pesantren Al-Yasini, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (18/07) malam.

 

Alumni seangkatan di UIN Malang (2000) ini, biasa disapa Topan. Waktu berkelindan di Jalan Gayana 50 Malang, punya tradisi menulis. Waktu itu, darah menulis saya mulai mengalir. Itu sisi kesamaan kala itu.

 

Termasuk, dengan sahabat Fauzi Muda, yang kini berkurung sebagai akademisi di UIN KHAS, Jember. Mendahului penulis, takziah pada kepergian suami dari Profesor Ilfi Nur Diana, Wakil Rektor Bidang AUPK UIN Malang. Produktif menelorkan karya. Lama tak jumpa. Mungkin di lain kesempatan.

 

Pasca mengembalikan si bungsu, Mas Dzikri Fakhrillah Aziz ke penjara Suci, Pesantren Sidogiri, Kamis (18/07) malam, ditemani Mbak Lika Rahmawati Aziz, penulis bergegas takziah pada Anggota Majelis Pengasuh Pesantren Al-Yasini, yang menghadap Tuhan pada Kamis (18/07) sekira Pukul 09.39 WIB.

 

Profesor Nur Solikin, kakak kandung Mas Topan telah memenuhi panggilan ilahi. Menuju alam keabadian. Ia meninggalkan seorang istri, dan tiga orang anak, yang salah satunya sudah enam tahun berada di Pesantren Ploso, Kediri, Jatim.

 

Setelah mendoakan almarhum, penulis berbincang santai dengan Mas Topan. Mulai isu lokal, regional hingga nasional. Dari tema akademik sampai politik. Semua dikupas secara cepat walau rasa kebangsaan kita mulai pahit dan pekat.

 

Sepuluh tahun tak bertemu, rasanya ingin berdiskusi panjang. Namun, malam kian larut. Di tengah asyik berbincang, Gus Tsabit Yasin, alumni senior UIN Malang, merapat. Membincang soal kejujuran akademik.

 

Tak pelak, suasana hangat dan gelak tawa pecah seketika! Apa gerangan? Tentu, ingat masa lalu yang mendebarkan, juga menjanjikan kelezatan idealisme (yang) begitu menyala!

 

Idealisme, kemewahan yang dilekatkan pada aktivis yang terus memegang teguh integritas dalam situasi dan kondisi apapun. Ciri utamanya, ada kesamaan pikiran, ucapan, sikap, dan tindakannya.

 

Baca Juga : Daftar Pinjaman Online Legal dan Ilegal, Update Juli 2024

Itulah, substansi diskusi terbatas dengan dua orang aktivis yang menggandrungi visi nahi munkar, tidak mendiamkan ketidakbenaran dan letidakadilan di ruang publik.

 

Sebelum undur diri, penulis bersyukur bisa mendoakan Gus Amik, menantu almarhum yang menikahi putri pertama pasangan Profesor Nur Solikin (UIN Jember) dengan Profesor Ilfi Nur Diana (UIN Malang) sebelum pemakaman sang Ayahanda.

 

Untuk almarhum Profesor Nur Solikin, semoga husnul khatimah dan ditempatkan di sisi-Nya. Untuk putri pertama dari tiga bersaudara, Neng Elma Qotrunnada Hanin dan Gus Amik (suami, Magelang), selamat menempuh hidup baru.

 

Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, dan dikaruniai momongan yang shalih dan shalihah.

 

Untuk Mas Ali Imron, sukses terus bertugas di Sekretariat Jenderal Bawaslu Republik Indonesia. Untuk Gus Tsabit, sehat selalu, terus mengabdi, dan berkontribusi untuk kemajuan Pesantren Al-Yasini.

 

Sampai bertemu kembali dalam suasana yang lebih hangat, sahabat. Jabatan tangan kedua kalinya dengan keduanya pun dilakukan.

 

Saya pun izin balik kanan. Memecah malam menuju Malang Kota, yang menanti kaum muda. Memikat hati Generasi Z (Gen Z), _Zoomers_. Laga Wali Kota, 27 November mendatang. (*)

 

O l e h : *ABD. AZIZ*

_Advokat, Legal Consultant, Lecture, Mediator Non Hakim, dan CEO Firma Hukum PROGRESIF LAW. Kini, Sekjen DPP Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK), dan Bakal Calon Wali Kota Malang_

Topik Terkait
# sahabat# opini

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap