17 Oktober mendatang usia Kota Batu akan menginjak 23 tahun, usia yang semakin matang semenjak Kota Batu menjadi kota otonom di tahun 2001 silam. Perkembangan yang demikian cepat, sebagai daerah termuda di Malang Raya ini Kota Batu telah berhasil membranding diri menjadi Kota Wisata terbesar di Jawa Timur, dan menjadi salah satu destinasi utama tujuan wisatawan lokal maupun mancanegara di Indonesia.
Perkembangan Kota Batu yang demikian pesat tidak lepas dari keberhasilan estafet kepemimpinan semenjak Kota batu dipimpin oleh Almarhum Imam Kabul, dilanjutkan oleh Almarhum Eddy Rumpoko, yang kemudian berlanjut ke istrinya Dewanti Rumpoko untuk periode pertama. Kota Batu telah mengalami dinamika Pemilihan Kepala Daerah secara langsung di tahun 2007, 2012 dan 2017, sejatinya di tahun 2022 dijadwalkan Pilkada langsung ke empat di Kota Batu, namun karena adanya regulasi pelaksanaan Pilkada secara serentak Nasional di tahun 2024, maka Pilkada Kota Batu baru akan dilaksanakan bersama dengan Kota/Kabupaten lainnya se Indonesia di tanggal 27 November 2024.
Baca Juga : Belum Setahun Diluncurkan, Pakaian Khas Kota Batu Sekar Bawono Kantongi HaKI
Semenjak Desember tahun 2022, kepemimpinan Kota Batu dipimpin oleh Penjabat (Pj) Walikota Batu yang ditunjuk oleh Presiden melalui Menteri Dalam Negeri. Jeda kekosongan dua tahun dari 2022 ke tahun 2024 tentunya membuat suasana Kota Batu yang sudah adem menjadi semakin adem tanpa adanya “incumbent” aktif. Terlebih mantan Walikota Batu periode 2017-2022 Dewanti Rumpoko sepertinya enggan melanjutkan kepemimpinan periode keduanya, dan tampak nyaman dengan posisinya saat ini sebagai Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur terpilih PDIP dari Dapil Malang Raya yang akan dilantik di awal September mendatang.
Keengganan Dewanti Rumpoko untuk maju kembali di Pilkada Kota Batu akhirnya menjadi angin segar bagi figur-figur baru muncul mewarnai dinamika menjelang Pilkada Kota Batu 2024. Maka tak heran bermunculan nama-nama potensial seperti Kris Dayanti, Didik Gatot Subroto, Firhando Gumelar, Heli Suyanto, Ludi Tanarto, Nurochman hingga nama-nama lawas seperti Punjul Santoso dan H. Rudi. Namun berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh salah satu lembaga survei, nama teratas yang masih leading di Kota Batu masih tetap diraih mantan Walikota Dewanti Rumpoko, baru kemudian diikuti oleh Kris Dayanti, Heli Suyanto, Ludi Tanarto hingga Firhando Gumelar.
Kemunculan nama Kris Dayanti tentunya sangat menarik, dari segi popularitas Kris Dayanti mampu menyaingi mantan Walikota Dewanti Rumpoko, apalagi dengan kelebihannya sebagai “Artis Nasional Wong Asli Mbatu” tentu akan memberikan “Efek Kejut” dalam Pilkada Kota Batu apabila benar rekom PDIP sebagai Partai yang menaunginya turun kepadanya. Ketidakberuntungan di Pemilu Legislatif DPR RI 2024 kemarin membuka jalan baginya untuk pulang kampung membangun kota asalnya Batu, terlebih apabila dirinya bisa dimentori langsung oleh Dewanti Rumpoko yang kemarin juga merupakan tandemnya di Pemilu Legislatif 2024.
Selain menjadi Mentor, Dewanti Rumpoko juga dapat menjadi sosok penting yang akan memberikan efek electoral bagi Krisdayanti mengingat tingkat electoral Dewanti Rumpoko masih yang tertinggi saat ini, sehingga ketika Dewanti tidak maju, maka endorsement Dewanti akan memberikan efek yang signifikan bagi Kris Dayanti untuk memenangkan Pilkada Kota Batu 2024.
Namun Krisdayanti tentunya bukan tanpa kelemahan, faktor keartisan seringkali membuat kandidat tidak membumi di masyarakat, banyak contoh artis yang maju menjadi calon kepala daerah berakhir dengan kekalahan karena tidak disukai atau dianggap remeh oleh masyarakat. Popularitas artis tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kesukaan dan penerimaan Masyarakat, apalagi dengan tingkat keterpilihannya.
Popularitas yang tinggi harus dibarengi dengan tingkat kesukaan dan penerimaan Masyarakat, agar pada akhirnya kandidat tersebut mau dipilih oleh masyarakat. Salah satu kelemahan public figure seperti artis adalah kemampuan dan kapasitasnya sebagai pemimpin daerah yang banyak diragukan. Kekurangpahaman terhadap birokrasi, kebijakan dan regulasi harus mampu ditutupi oleh pasangan calonnya sebagai calon wakil walikota, oleh karena itu pasangan yang ideal bagi Public Figure seperti Kridayanti adalah dari kalangan Birokrasi atau orang pemerintahan yang berpengalaman.
Baca Juga : Batu Culture Festival 2024 Ajang Berkumpulnya Beragam Kesenian
Dari sisi politik, meskipun PDIP mampu mengusung Pasangan calon sendiri, pilihan calon wakil walikota dari Birokrat juga dapat menjadi peredam ego bagi partai-partai koalisi pengusung diluar PDIP untuk tidak memaksakan kadernya masing-masing berpasangan dengan Krisdayanti. Duet pasangan Artis dan Birokrat menurut penulis dapat menjadi pemimpin ideal untuk Kota Batu ke depan. Perkembangan Kota Wisata Batu yang sudah demikian pesat dan berkembang bila dipimpin oleh duet pasangan artis – birokrat akan mampu membuat Kota Batu semakin melejit mendunia, karena atensi publik semakin besar dan akan menjadi magnet bagi investor, media dan wisatawan untuk semakin datang ke Kota Wisata Batu.
Oleh: Dito Arief Nurakhmadi
Penulis adalah Founder Semart Politica & Kandidat Doktor Sekolah Pascasarjana UB