Melihat Gerhana Matahari Total dengan Mata Telanjang Apa Bisa Bikin Buta? 

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

07 - Apr - 2024, 07:38

Ilustrasi gerhana matahari total yang akan terjadi pada 8 April 2024. (Foto: BMKG)

JATIMTIMES - Fenomena alam Gerhana Matahari Total (GMT) bakal terjadi pada 8 April 2024. Hal ini membuat banyak warganet penasaran hingga menjadi trending dalam penelusuran Google, Minggu (7/4) dengan kata kunci "gerhana matahari total 8 April". 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan GMT terjadi lantaran bulan melintas di antara Matahari dan Bumi, sehingga menutupi seluruh permukaan Matahari, yang seharusnya terlihat dari Bumi. Saat fenomena ini terjadi, maka langit akan gelap seperti fajar atau senja. 

Baca Juga : 8 Negara Tujuan Ekspor Kerupuk dan Keripik Indonesia, Korsel Jadi Nomor 1

Melansir keterangan resmi BMKG, berikut ini proses GMT yang akan berlangsung pada 8 April mendatang:

- Dimulai dengan gerhana matahari sebagian pukul 15:42 UT (22:42 WIB)

- Mulai memasuki GMT pukul 16:39 UT (23:39 WIB)

- Puncak GMT terjadi pada 18:17 UT (tanggal 9 April 2024, pukul 01:17 WIB)

- GMT berakhir pada 19:56 UT (tanggal 9 April 2024, pukul 02:56 WIB)

- Diakhiri dengan gerhana matahari sebagian pukul 20:52 UT (tanggal 9 April 2024, pukul 03:52 WIB)

Adapun GMT 8 April 2024 ini hanya dapat disaksikan di Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada. Sayangnya, di Indonesia tidak dapat menyaksikannya, karena pada saat GMT tersebut berlangsung, wilayah Indonesia akan berada pada sisi gelap bumi (waktu malam hari). Lantas bagi warga yang hendak menyaksikan GMT tanpa alat, apa bisa bikin buta?  

Melansir Mental Floss, Minggu (7/4), National Aeronautics and Space Administration (NASA) tidak menyarankan melihat GMT tanpa bantuan alat khusus. Faktanya, memang melihat gerhana matahari tanpa alat bantu secara sekilas tidak akan membuat mata buta.

Baca Juga : Cuma Ekspor Sapu Lidi, Kamu Bisa Jadi Sultan 

Namun, jika melihat GMT dalam waktu yang lama, menurut NASA meskipun pada waktu GMT berlangsung 99 persen permukaan matahari tertutup, namun ada 1 persen cahaya menyelinap keluar.

Satu persen cahaya ini sudah cukup untuk merusak sel-sel di retina mata. Saat cahaya dan radiasi membanjiri mata, retina akan terperangkap dalam semacam kompor surya yang bisa membakar jaringan di mata.

Gawatnya, retina mata tidak memiliki reseptor rasa sakit sehingga kita secara tidak sadar terus memandanginya. Akibatnya tubuh tidak punya peringatan untuk berhenti dan menimbulkan risiko serius di kemudian hari.

Jika memang benar-benar ingin mengamati GMT, ada cara yang aman yang bisa dilakukan, yakni menggunakan kacamata gerhana. Kacamata ini akan menghalangi sinar matahari untuk sampai ke retina yang tidak dimiliki kacamata hitam biasa.

Sementara itu, American Astronomical Society juga menyarankan untuk menyaksikan gerhana secara tidak langsung. Seperti melalui proyektor lubang jarum atau teleskop yang dilengkapi dengan filter matahari khusus.