Pasar Takjil Ramadan di Banyuwangi Tak Seramai Tahun Lalu
Reporter
Nurhadi Joyo
Editor
Yunan Helmy
25 - Mar - 2024, 11:18
JATIMTIMES - Para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan ekonomi kreatif di Banyuwangi yang membuka lapak di Pasar Takjil Ramadan 1445 H tetap bersyukur dan senang meskipun pendapatan mereka rata-rata turun dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut pemilik lapak Sate Jamur Mbah Gabut, Efi Yuliani (44 tahun), animo masyarakat terhadap Pasar Takjil Ramadan yang ada di kawasan Setro Penganten, Kelurahan Tukangkayu, Banyuwangi, cukup tinggi. Pengunjung bukan hanya warga lokal, namun juga pengunjung dari luar Banyuwangi.
Baca Juga : 10 Negara dengan Umur Terpendek, Kisaran 50 Tahun
Tetapi, pengunjung pasar Ramadan tahun ini tidak sebanyak tahun lalu. "Kami selaku pelapak sangat bersyukur Pemkab Banyuwangi memberikan peluang dan kesempatan bagi para pelapak untuk terus berjualan di pasar Ramadan. Bahkan membantu mempromosikan pasar Ramadan dan menggerakkan ASN untuk belanja makanan minuman di Pasar Takjil Ramadan,” ujar Efi Yuliani, Senin (25/3/2024) .
Dari usaha yang ditekuni, yakni sate jamur, Efi mengaku mampu mengolah 5 kg jamur dengan produksi 400 tusuk sate jamur, 1 kg ayam jadi 70 tusuk sate ayam, dan 1 kg usus menjadi 70 tusuk. Pendapatan per hari rata-rata Rp200 ribu sampai Rp300 ribu.
Turunnya hujan di wilayah Banyuwangi dalam bulan Ramadan, menurut Efi, tentu berpengaruh pada hasil penjualan karena pengunjung yang datang menurun.
Efi menambahkan di luar bulan suci Ramadan, dia menawarkan produknya secara online. "Kalau di Car Free Day (CFD) kawasan Taman Blambangan Banyuwangi omzet penjualan rata-rata Rp500 ribu atau terjual 50 porsian. Hasil bersih kalau CFD bisa Rp250 ribu,” ungkapnya.
Baca Juga : 4 Cara Mengintip Status WhatsApp Orang Lain Tanpa Ketahuan
Sementara, Yudi -pelapak Oshin Moon Dragon, yang menjajakan menu makanan Korea seperti dimsum, takoyaki, sosis bakar- mengungkapkan kesan yang sama dalam membuka usaha di Pasar Takjil Ramadan kali ini.
Menurut dia, setiap hari memproduksi sekitar 50 kg makanan dengan pendapatan kotor per hari rata-rata Rp1 juta sampai Rp1,5 juta. ”Namun apabila turun hujan, omzet penjualan berkurang dan otomatis pendapatan juga menurun,” ujar Yudi.
