Oleh : M. Bahrul Marzuki Wartawan JatimTIMES yang juga Pemegang Lisensi D PSSI.
JATIMTIMES - Jutaan pasang mata di Indonesia baru saja menyaksikan debat capres edisi pertama di televisi, Selasa (13/12) malam. Debat malam itu dengan tema hukum, HAM, pemerintahan, pemberantasan korupsi, dan penguatan demokrasi.
Baca Juga : Mahfud Md: Korupsi Hambatan Utama Menuju Indonesia Emas
Semua capres tampil dengan percaya diri malam itu. Ada Capres nomor urut 1, Anies Baswedan, capres nomor urut 2, Prabowo Subianto dan capres nomor urut 3, Ganjar Pranowo.
Jika diibaratkan sebuah tim sepak bola, masing capres ini memiliki gayanya sendiri. Ada Anies yang memilih tampil ala Kick and Rush sepak bola Inggris, sepak bola Italia bertahan Catenaccio yang diperagakan Prabowo Subianto dan juga sepak bola tiki-taka ala Spanyol yang disajikan Ganjar Pranowo.
Anies layak disebut meragakan sepak bola Kick and Rush mengapa? Karena dia memilih tampil menggebrak sejak awal.
Jamak dilakukan tim Liga Inggris begitu peluit Kick Off dibunyikan maka tanpa basa-basi langsung melakukan serangan ke gawang lawan.
Hal yang dilakukan Anies ketika awal diberi kesempatan untuk sambutan. Anies langsung menyinggung putusan MK yang bisa berubah karena faktor anak millenial yang memiliki kepentingan untuk maju cawapres. Sementara di luaran sana ada ratusan bahkan ribuan anak millenial yang sering memprotes soal keputusan hukum yang tidak adil namun dihadapi dengan cara kekerasan oleh aparat.
Mendapat serangan cepat dari Anies ini, Prabowo yang tak mau tampil menyerang di awal, terpancing juga.
Awalnya Prabowo dalam penyampaian visi-misinya lebih banyak menekankan tentang persatuan dan menghindari pecah-belah.
Tertekan oleh serangan di awal, Prabowo coba melakukan Conter Attack. Prabowo sempat menyinggung rekom gubernur DKI Jakarta yang diberikan olehnya.
Prabowo kemudian melindungi nama baik Presiden RI, Joko Widodo. Dan jika seandainya Jokowi adalah sosok yang diktator dan tidak ada demokrasi di Indonesia maka pupus kesempatan Anies untuk menjabat sebagai gubernur DKI periode tahun 2017-2022.
Dalam debat itu, untungnya Anies memiliki otak sekelas gelandang Liverpool era 2005, Steven Gerrard. Anies bisa kembali membalikkan keadaan dari tertekan menjadi menekan kembali.
Anies pun dengan enteng menyinggung bahwa tak semua orang betah berada di posisi oposisi. Seperti halnya yang dilakukan Prabowo Subianto dahulu sebelum masuk kabinet dan menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI. Bahwa dahulunya Prabowo berada di luar kabinet pemerintahanan.
Ganjar yang mendapat nomor urut tiga dan sering mendapat kesempatan terakhir dalam berbicara ini sebenarnya juga coba menguasai situasi. Awalnya melihat perdebatan yang cenderung serang-menyerang ini Ganjar menyampaikan ada perasaan tidak enak dan enggan untuk menyerang atau menyinggung kontestan lain.
Ganjar lebih asyik memaparkan tentang program-program ke depan jika dia terpilih dan termasuk juga memaparkan keberhasilan-keberhasilannya selama menjadi gubernur dua periode di Jawa Tengah.
Baca Juga : Gebyar Undian Lunas PBB, Pj Wali Kota Kediri Harapkan Jadi Motivasi Masyarakat Bayar Pajak Tepat Waktu
Dengan strategi sepak bola tiki-taka dia juga coba menguasai panggung. Yakni, dengan banyak menguasai bola. Ball Posession adalah andalan timnas Spanyol ketika keluar sebagai juara dunia tahun 2010.
Saat itu Spanyol banyak menumpuk pemain tengah. Bahkan memainkan strategi False Nine dengan menempatkan Cesc Fabregas sebagai pemain depan meski sebenarnya dia berposisi sebagai gelandang.
Sesekali Ganjar dengan strategi Tiki-Takanya ini pun coba menyerang. Yakni, ketika langsung meminta apakah Prabowo Subianto akan bersedia mencari makam belasan aktivis korban hilang di era reformasi.
Mendapat serangan ini pun Prabowo langsung bertahan total. Bahwa isu tersebut kata dia muncul setiap lima tahun sekali dan saat dia maju sebagai kandidat. Dan tak pernah terbukti secara hukum melalui pengadilan jika dirinya adalah pelanggar HAM.
Semua strategi debat dan filosofi permainan sepak bola Inggris, Italia dan Spanyol ini memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Dan masing-masing capres sebenarnya sudah coba mengeksploitasi sisi kelemahan lawan.
Tapi yang perlu diingat, karena ini merupakan pertandingan trofeo pertama, tiga capres lebih bermain aman. Karena masih ada pertandingan berikutnya yang harus dimenangkan.
Maka adil jika disebut dalam pertandingan pertama ini berjalan imbang. Meskipun ada tim yang sempat kebobolan tapi bisa segera menyamakan skor.
Penulis : M. Bahrul Marzuki Wartawan JatimTIMES yang juga Pemegang Lisensi D PSSI.