Mencairnya Es di Alaska Jadi Pembahasan COP28 Dubai
Reporter
Ghiska Ayu
Editor
Nurlayla Ratri
05 - Dec - 2023, 09:58
JATIMTIMES- Saat ini pemimpin dunia sedang berkumpul untuk melaksanakan pertemuan tahunan KTT Iklim COP28 di Dubai, 30 November hingga 12 Desember 2023. Di saat yang sama, analisis terbaru menunjukkan sikap negara-negara menghadapi masalah perubahan iklim global.
Alaska, tanah beku di ujung utara Amerika Serikat, menjadi saksi nyata dari dampak yang mengerikan dari perubahan iklim global. Pencairan es, yang melibatkan glasier dan gletser bukan hanya memengaruhi kondisi lokal di Alaska. Melainkan juga memberikan kontribusi signifikan terhadap kenaikan permukaan laut global.
Baca Juga : Aksi Saling Tuduh Israel dan Palestina di Sidang PBB Terkait Kondisi Genosida Gaza Saat ini
Pencairan es di Alaska, terutama pada glasier dan gletsernya, telah menjadi pemicu utama kenaikan permukaan laut global. Melalui proses ini, sejumlah besar air beku dilepaskan ke laut, yang pada gilirannya meningkatkan volume dan tingkat permukaan laut secara keseluruhan.
Glasier sendiri adalah bentuk terkondensasi dari es atau embun yang terjadi ketika permukaan benda dingin. Misalnya, pada tanah atau benda padat lainnya. Glasier ini memiliki suhu di bawah titik beku dan udara di sekitarnya cukup lembab. Glasier biasanya terbentuk pada benda-benda yang lebih kecil seperti daun tanaman, rumput, atau objek kecil lainnya. Ini sering terjadi di pagi hari atau pada malam hari ketika suhu turun dan kelembaban tinggi.
Sedangkan gletser adalah massa besar es yang bergerak perlahan-lahan melalui lembah atau goa yang terbentuk oleh akumulasi salju bertahun-tahun. Gletser terbentuk ketika akumulasi salju melebihi pencairan dan pelapukan es. Mereka bergerak perlahan karena tekanan gravitasi dan berkontribusi pada perubahan topografi di sekitarnya.
Permasalahan dampak perubahan iklim di Alaska menjadi sorotan utama dalam pembahasan di Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim ke-28 (COP28) yang sedang berlangsung di Dubai saat ini. Delegasi dari seluruh dunia berkumpul untuk membahas solusi konkret dan rencana tindakan untuk mengatasi dampak perubahan iklim, termasuk krisis di Alaska.
Baca Juga : Perang Meningkat, Israel Gempur Sisi Selatan Gaza, 15.900 Orang Tewas
Pemerintah, ilmuwan, dan pemangku kepentingan lainnya bersatu untuk mencari langkah-langkah yang dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan melindungi komunitas yang terkena dampak.
Diskusi dan tindakan yang dihasilkan di COP28 di Dubai diharapkan menjadi langkah penting menuju penanganan serius terhadap dampak perubahan iklim, terutama di wilayah-wilayah yang paling terpencil dan rentan seperti Alaska.
