JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Dinamika Penyebaran HIV dan Dampak Terhadap Kesehatan Masyarakat

Reporter: Ely Fatkhiyatus Sa'adah • Editor: Redaksi
📅 4 Desember 2023, 21:02 WIB ⏱️ 5 menit baca

JATIMTIMES - Virus Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan agen etiologi yang menyerang sistem imunitas manusia. Infeksi oleh HIV menimbulkan penurunan signifikan dalam efikasi sistem pertahanan tubuh, mengakibatkan implikasi serius pada kesehatan. Akibatnya, individu yang terinfeksi HIV menjadi lebih rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit yang dapat membahayakan kesehatan secara menyeluruh.

 

Baca Juga : Kisah Arya Wiraraja: Disingkirkan karena Beragama Islam, Lalu Ikut Mendirikan Majapahit

Manifestasi klinis yang muncul sebagai konsekuensi penyebaran virus HIV bersifat heterogen dan melibatkan fase prodromal yang dapat menunjukkan gejala nonspecific, seperti Fatigabilitas meningkat. Seiring berlalunya waktu, patogen menimbulkan kerusakan substansial pada limfosit T CD4.

 

Selain itu, Penyakit HIV bisa mampu mencetuskan komplikasi berupa infeksi oportunistik, yakni infeksi muncul sebagai dampak dari penurunan kekebalan tubuh. Infeksi ini dapat menyerang organ-organ vital seperti paru-paru, usus, dan sistem saraf.

 

Pasien dengan HIV juga memiliki risiko peningkatan mengalami beberapa jenis kanker tertentu. Meski terapi antiretroviral telah meningkatkan prognosis hidup penderita HIV, tetapi hal yang sangat disayangkan bahwa HIV masih belum dapat diberantas sepenuhnya. 

 

 

Data tahun 2023 terdapat peningkatan insiden HIV di Indonesia. Berdasarkan statistik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, terungkap bahwa sekitar 35 persen ibu rumah tangga mengalami infeksi HIV, presentase signifikan jika dibandingkan dengan suami yang berprofesi sebagai pekerja keras dan kelompok man Sex With Man (MSM)

 

Data itu menunjukkan bahwa sekitar 30 persen penularan HIV dari suami ke istri terkait dengan praktek tertentu, menyebabkan kenaikan jumlah kasus HIV baru sebanyak 5.100 setiap tahun.

 

Seorang pakar kesehatan dr. Syahril merinci bahwa minimnya pemahaman mengenai upaya pencegahan dan dampak penyakit HIV bersamaan keberadaan pasangan yang menunjukkan perilaku seksual berisiko, menjadi elemen utama yang mengkatalisasi tingginya tingkat penularan HIV dalam kalangan ibu rumah tangga.

 

Dinamika tersebut menegaskan urgensi perlunya peningkatan pendidikan dan sosialisasi terkait HIV, utamanya dalam ranah keluarga dan pasangan. Hal ini dilakukan sebagai langkah strategis untuk mereduksi risiko penularan dan mengendalikan penyebaran patogen ini.

 

Ibu rumah tangga yang terjangkit HIV menghadapi risiko signifikan dalam mentransmisikan virus kepada anak-anaknya, baik selama masa kehamilan, proses persalinan, maupun selama periode menyusui. Umumnya penularan HIV dari ibu ke anak memberikan kontribusi sebesar 20-45 persen dari total sumber penularan HIV, melibatkan aspek-aspek seperti kegiatan seksual, penggunaan jarum suntik, dan transfusi darah yang tidak memenuhi standar keselamatan. Dampaknya, sekitar 45 persen bayi dilahirkan oleh ibu berstatus HIV positif berisiko tinggi untuk terinfeksi dan mempertahankan kondisi HIV positif sepanjang rentang hidup.

 

Dalam konteks upaya mencapai target pengendalian HIV hingga tahun 2024 dan eliminasi hingga tahun 2030, Indonesia dihadapkan pada tantangan serius. Mayoritas insiden HIV terfokus pada kelompok usia 25-29 tahun, dengan perkiraan jumlah kasus baru mencapai 30.000 setiap tahun di tanah air ini.                

 Berdasarkan data tahun 2022, pencapaian target 95 persen untuk mengakhiri epidemi HIV pada tahun 2030 masih belum tercapai. Indikator pertama, yaitu 95 persen orang dengan HIV (ODHIV) mengetahui status HIV-nya, baru mencapai 76 persen.

 

Sementara target kedua 95 persen HIV yang diobati, dan target ketiga 95 persen ODHIV yang diobati dan mengalami supresi virus, baru tercapai sebesar 41 persen dan 16 persen masing-masing. 

 

Salah satu kendala utama dalam pengendalian HIV adalah adanya stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV atau Orang Dengan HIV (ODHA).

 

Baca Juga : Evakuasi Pendaki di Gunung Marapi Sempat Dihentikan Sementara karena Erupsi Susulan

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada tahun 2020, stigma HIV merujuk pada sikap dan keyakinan negatif terhadap penderita HIV, menciptakan prasangka bahwa mereka adalah bagian dari kelompok yang dianggap tidak dapat diterima secara sosial. 

 

Sementara stigma menunjukkan sikap atau keyakinan. Diskriminasi merupakan perilaku timbul dari sikap atau keyakinan tersebut, dengan diskriminasi HIV berarti perlakuan berbeda terhadap individu yang hidup dengan HIV dibandingkan mereka yang tidak terinfeksi. 

 

Stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) dapat mengambil bentuk penolakan dalam menggunakan peralatan yang sama, menjauhkan diri, menyalahkan ODHA atas kondisinya, penolakan dalam lapangan kerja, pelecehan verbal maupun fisik, serta penolakan dari keluarga atau masyarakat, termasuk keengganan untuk melibatkan mereka dalam aktivitas atau organisasi tertentu.

 

Tes HIV dan konseling memegang peranan krusial dalam pencegahan, perawatan, dukungan, dan pengobatan. Namun, hingga saat ini jumlah penduduk yang menjalani tes HIV masih rendah. Sebagian besar disebabkan kurangnya kesadaran akan keparahan HIV. 

 

Penelitian ini, menggunakan metode systematic review dengan pencarian artikel berdasarkan kata kunci yang relevan, bertujuan untuk memberikan wawasan mengenai faktor-faktor berkontribusi pada stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Tingginya tingkat ketidaktahuan masyarakat tentang HIV dapat menyebabkan interpretasi yang tidak akurat.

 

Selain itu, ketakutan terutama di kalangan tenaga kesehatan menjadi faktor signifikan. Mengingat HIV dapat ditularkan melalui darah, menimbulkan kekhawatiran akan infeksi selama proses perawatan medis yang bersifat invasif. 

 

Terhadap perspektif agama, konsep kesehatan dan penyakit menilai bahwa seseorang yang terinfeksi HIV dianggap sebagai kutukan dan hukuman dari Tuhan akibat perilaku moral buruk. Dalam ranah sosial, interaksi antar individu merupakan unsur fundamental, dengan komunikasi sebagai sarana utama penyampaian informasi.

 

Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA timbul karena dianggap sebagai sesuatu yang memalukan, sehingga peran tokoh masyarakat menjadi krusial dalam memperbaiki komunikasi di masyarakat sebagai panutan yang dapat menyebarkan informasi yang akurat.

 

Komunikasi yang tidak efektif dapat memperparah stigma terhadap ODHA, oleh karena itu, petugas kesehatan perlu memberikan informasi komprehensif kepada tokoh masyarakat mengenai HIV. Pendidikan memainkan peran penting dalam korelasi antara pengetahuan dan stigma terhadap ODHA. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang lebih rendah berkaitan dengan tingkat diskriminasi yang lebih tinggi.Sebaliknya, tingkat pendidikan yang lebih tinggi dapat meningkatkan pemahaman dan mengurangi diskriminasi terhadap ODHA. 

 

Dengan adanya pengetahuan yang memadai tentang HIV, sikap masyarakat terhadap ODHA dapat berubah secara positif. Oleh karena itu, keluarga cenderung memperlakukan anggota keluarga yang terinfeksi HIV dengan sikap tidak mendukung. Akan berbeda bila dukungan yang diberikan oleh keluarga kepada ODHA dapat mengurangi tingkat stigma dan diskriminasi, menciptakan lingkungan di mana ODHA merasa dicintai, dan meningkatkan kemungkinan mereka untuk mengakses pelayanan kesehatan.

 

Diseminasi informasi komprehensif tentang HIV juga memiliki peran dalam mengurangi munculnya stigma. Pengimplementasian program edukasi kesehatan yang merata dan mudah diakses juga menjadi faktor penting. Dalam hal ini, pengetahuan, tingkat pendidikan, ketakutan, keyakinan, komunikasi, persepsi, sikap, dan status adalah elemen-elemen yang berkontribusi terhadap tingkat stigma dan diskriminasi terhadap ODHA.(*)

 

Topik Terkait
# Penyebaran HIV

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap