4 Alasan Bahasa Belanda Tak Pernah Menjadi Bahasa Nasional di Indonesia, Meski Menjajah Ratusan Tahun

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

08 - Aug - 2023, 06:40

Dokumentasi peradilan kala dijajah oleh Belanda. (Foto: Twitter)

JATIMTIMES - Sejarah Belanda tercatat memulai pengaruhnya sejak akhir abad ke 16 sampai pertengahan abad ke 20. Dimulai dari pendirian Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) hingga pemerintah kolonial Belanda.

Namun, mengapa dalam perjalanan Belanda menjajah tanah jajahannya, tidak banyak masyarakat pribumi yang menguasai bahasa Belanda? Bahasa ini bahkan tidak menjadi pilihan kedua, setelah bahasa Indonesia

Baca Juga : Juan Pedro Italiano, Penasehat Raja Panembahan Hanyakrawati dari Venezia

Hal itu berbeda halnya dengan negara penjajah seperti Inggris, Spanyol dan Prancis. Di mana negara penjajah tersebut bahasanya banyak dipakai oleh negara jajahannya.   

Berikut ini 4 alasan mengapa bahasa Belanda tidak menjadi bahasa nasional di Indonesia, menurut penulis dan pendiri Faktabahasa Erlangga Greschinov, dikutip dari akun Twitternya:

1. Indonesia Sudah Punya Lingua France 

Alasan pertama, Indonesia tidak memakai bahasa Belanda meski dijajah ratusan tahun karena Indonesia sudah punya lingua franca sejak abad ke-14, yaitu bahasa Melayu.

Bahasa Melayu kerap digunakan oleh para pedagang, terutama di wilayah kekuasaan Sriwijaya dan Selat Melaka. Dan kemudian menyebar ke Kalimantan dan Kepulauan Maluku.

Ada banyak pedagang dari berbagai suku dan bangsa menggunakan bahasa Melayu. Sehingga Belanda yang juga datang sebagai pedagang, otomatis juga "harus menerima" kedudukan bahasa Melayu sebagai lingua franca di bumi Nusantara.

2. Bahasa Belanda tidak menjalankan politik pemaksaan bahasa

Berbeda dengan kolonialisme Prancis yang menekankan supremasi budaya dan bahasa Prancis, Belanda tidaklah demikian. Fokus mereka hanya berdagang dan mencari keuntungan sebesar-besarnya.

Belanda itu bangsa pedagang. Mereka akan banyak menghitung untung-rugi, daripada keluar biaya untuk menjalankan politik bahasa yang baru ke rakyat jajahan, mending fokus mengembangkan bahasa yang sudah ada lebih dahulu, yaitu bahasa Melayu.

Baca Juga : Diduga Diminta Telanjang Saat Body Check, Finalis Miss Universe: Iya Telanjang, Tapi

Belanda lebih memilih untuk mengembangkan bahasa Melayu sebagai bahasa pribumi, buktinya yaitu munculnya Ejaan Ophuisjen & didirikannya Balai Pustaka. Bahkan Belanda juga meneliti dan mendokumentasikan bahasa daerah dengan baik. Bahkan, tahun 1861 sudah ada Kamus Batak-Belanda.

Tahun 1861 sudah ada Kamus Batak-Belanda. (Foto: Twitter)

Tahun 1861 sudah ada Kamus Batak-Belanda. (Foto: Twitter)

3. Bahasa Belanda dipakai secara eksklusif

Saat menjajah ke Indonesia, Bahasa Belanda hanya diperintukkan bagi orang Belanda dan pribumi yang berpendidikan. Alhasil bahasa Belanda tidak pernah benar-benar masuk ke akar rumput masyarakat Indonesia.

4. Suksesi kekuasaan politik dari Hindia-Belanda menuju Indonesia tidak berlangsung mulus dan damai

Belanda yang ingin tetap menjajah memunculkan perang dan konflik. Dari situ hubungan Indonesia-Belanda di awal-awal saja tidaklah harmonis, sehingga tidak mungkin untuk mewarisi bahasanya.

Demikian 4 alasan mengapa bahasa belanda tidak pernah menjadi bahasa nasional di Indonesia. Semoga bermanfaat.