Penjualan Menyusut, Petani Durian Berharap Covid 19 Segera Berakhir

Reporter

Nurhadi Joyo

Editor

A Yahya

09 - Apr - 2020, 12:44

Sulhak Bachtiar bersama Sedang Melayani Pedagang Eceran di gudangnya (Nurhadi Banyuwangi Jatim TIMES)

Para petani buah durian berharap serangan Covid 19 segera berhenti. Karena penyebaran covid 19 itu membawa dampak buruk bagi mereka. Terlebih lagi di saat-saat panen pada bulan-bulan ini.

Para petani buah yang terdampak itu seperti halnya dirasakan warga desa Segobang Kecamatan Licin Banyuwangi. Mereka berharap wabah Covid 19 segera tuntas, agar masyarakat bisa ceria dalam menyambut musim panen durian di desa tersebut.

Menurut Sulhak Bachtiar, Salah Seorang Tokoh Masyarakat desa Segobang, sebenarnya musim panen durian di wilayahnya mulai bulan Januari yang lalu.

Namun sejak muncul wabah virus Corona atau Covid 19 membawa dampak  masalah harga dan masalah pembeli harganya di hasilnya Rp 20 ribu sekarang tinggal Rp 15 ribu per bijinya.

Murahnya harga durian salah satu penyebabnya karena pembeli yang dalam kondisi normal kadang kadang itu sampai pukul 24.00 sekarang jam 21.00 sudah sepi enggak ada pembeli. "Makanya yang namanya bakul yang di jalan itu kesulitan untuk menjualnya dan yang lebih banyak merugi  daripada untungnya sekarang ini gitu mas,"jelasnya.

Mantan pengurus Partai Golkar Licin itu menuturkan perkiraan panen durian di desa Segobang berlangsung kira kira sampai hari raya Idul Fitri bahkan diprediksi sehabis hari raya masih ada  panen. "Mudah-mudahanlah yang namanya covid 19 ini lekas hilang soalnya kan perekonomian masyarakat Segobang ini  sudah masa panen gitu loh. Masanya bergembira masyarakat tapi setelah ada Covid 19 ini jadi masyarakat itu harus menunda keceriaan mereka," imbuhnya.

Sulhak menambahkan saat ini dalam sehari rata-rata durian yang keluar dari Segobang kurang lebih 4.000 biji. Selain itu buah manggisnya sekitar 10 ton  per hari. Kemudian buah langsep paling tidak sekitar dua ton karena langsep itu kan buah yang langka.

Hasil buah dari masyarakat desa Segobang tersebut, untuk penjualannya rata-rata untuk memenuhi pasar di Banyuwangi, Bali, Jember, Surabaya bahkan ada yang ekspor ke luar negeri misalnya Taiwan dan Jepang.

"Buah manggis itu kadang-kadang dari sini dibawa ke Jombang, Lamongan,  Surabaya bahkan sampai Madura. Untuk Madura itu durian dari Segobang kadang dua pikup dua hari," jelas Pria yang tinggal di depan Kantor Desa Segobang tersebut.