Tekun Belajar Matematika Sembari Hafalan Al-Quran, Santri Ar-Rohmah Raih Bronze Medal di Thailand
Reporter
Imarotul Izzah
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
30 - Apr - 2019, 01:03
Prestasi gemilang diborong oleh santri-santri Ar-Rohmah Putri Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur. Satu santri meraih bronze medal dan 5 santri yang lain mendapat Merit Award di ajang "Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2019" di Phuket, Thailand, (5-8 April 2019).
Dalam ajang bergengsi tersebut, mereka dihadapkan dengan 1.500 peserta dari 19 negara di seluruh dunia.
Satu santri yang berhasil meraih bronze medal ialah Dealova Nabila Salmah kelas VII SMP. 5 santri yang meraih Merit Award antara lain, Megan Madeeha kelas VII SMP, Ekatwa Sahdah Dyah Ayu kelas VII SMP, Rahma Fitria Putri kelas VII SMP, Marshanda Frida Damayanti kelas X SMA, dan Putri Zakia Salsabila kelas XI SMA.
Untuk mempersiapkan olimpiade ini, para santri digembleng bimbel selama hampir 2 bulan lamanya. Dua santri, yakni Dealova dan Megan bahkan belajar sembari membagi waktu untuk menghafal Al Quran karena mereka masuk ke dalam kelas tahfiz Quran.
Dealova yang akrab disapa Deva menyatakan dirinya sempat bingung membagi waktu untuk melakukan semuanya, yakni sekolah, belajar untuk olimpiade, hafalan Quran, dan kegiatannya yang lain.

Namun, ia menyiasatinya dengan mencuri waktu-waktu yang kosong. Entah itu pada saat istirahat, saat akan tidur, hingga di kelas pada saat pekerjaannya sudah selesai.
"Kadang sempat bingung bagi waktu. Kadang siang hafalan, kadang juga belajar, malem juga ada Ustazah Anggraini yang dateng. Jadi kadang belajarnya ya malem itu. Kalau nggak gitu ya bawa buku terus pas istirahat kadang dibuka," jelasnya.
Itu semua dilakukan Deva sampai ia berhasil siap di ajang olimpiade serta mengkhatamkan kewajiban hafalan Qurannya sebanyak 4 juz tersebut.
Nah, lantaran harus melakukan persiapan olimpiade di samping kewajibannya hafalan Quran, jadwalnya tentu lebih padat dari teman-temannya yang lain. Namun semuanya dilakukannya dengan sungguh-sungguh dan niat hingga akhirnya Deva berhasil di keduanya, baik meraih prestasi olimpiade maupun mencapai target hafalan Quran.
Deva sendiri sempat mengaku minder pada saat awal ia masuk dalam kelas tahfiz karena melihat teman-temannya yang rata-rata sudah jago.
"Sempat minder waktu di awal masuk kelas tahfiz. Ada yang sudah 14 juz, ada yang sudah khatam, banyak yang sudah punya simpenan hafalan mulai SD. Pertama masuk saya yang paling ketinggalan. Sekarang Alhamdulillah sudah tuntas," bebernya.
Deva dan kawan-kawannya ini digembleng dalam kelas Melejitkan Potensi Akademik (MPA). Sardinia Damayanti selaku Koordinator MPA mengaku bangga dengan anak-anak ini karena semangatnya yang luar biasa.
"Anak-anak walaupun jadwalnya padat masih tetap semangat," ujarnya.
Sebagai santri, mereka sudah pasti memiliki kegiatan yang padat. Selain menjalani pendidikan akademik, mereka juga mendapat pendidikan diniah atau agama. Maka dari itu, bimbel MPA dilakukan ba'da isya sampai pukul 21.30 WIB.
"Dibagi waktunya. Jadi nggak ketinggalan di akademik maupun diniahnya. Alhamdulillah perjuangan mereka terbayarkan," tandas wanita yang akrab disapa Nia tersebut.
Nia sendiri mengaku bersyukur akan keberhasilan ini. Sebab, mereka bersaing dengan 1.500 peserta yang berasal dari sekolah-sekolah luar negeri.
"Alhamdulillah kita dari sekolah Islam, apalagi anak-anak yang di pondok bisa bersaing dengan sekolah-sekolah lain, terutama sekolah-sekolah luar," pungkasnya.
