Inilah Fakta-Fakta Lokasi yang Diduga Tempat Pesugihan di Kabupaten Malang
Reporter
Pipit Anggraeni
Editor
Yunan Helmy
14 - Dec - 2018, 04:30
Kabupaten Malang memiliki salah satu kawasan yang sampai sekarang tersohor di berbagai penjuru Indonesia, bahkan mancanegara, sebagai tempat pesugihan. Tempat itu adalah Gunung Kawi yang terletak di barat Kepanjen dan berjarak kurang lebih 53 kilometer dari pusat Kota Malang.
Kawasan yang diduga sebagai tempat pesugihan itu sampai sekarang bahkan masih sering didatangi banyak orang. Kawasan Gunung Kawi pun dikatakan memiliki segudang misteri. Berikut fakta-fakta di balik cerita misteri dan ritual pesugohan di Gunung Kawi dilansor dari channel youtube Berita Terupdate.
1. Sejarah Berdirinya Kawasan Gunung Kawi
Kawasan Gunung Kawi berdiri bermula dari penasihat Pangeran Diponegoro, yaitu Kanjeng Zakaria II atau lebih dikenal sebagai Eyang Sujogo atau Eyang Jugo, yang melarikan diri ke kawasan selatan Jawa Timur. Di sana Eyang Jugo membuat padepokan besar.
Setelah sekian tahun, ia pun mengangkat dua orang murid bernama Raden Mas Joned dan Ki Muridun yang kemudian diminta membabat alas di hutan selatan Kawi yang kini kita kenal sebagai kawasan Gunung Kawi.
Awalnya, kawasan tersebut dijadikan tempat pengungsian dan membuat banyak kalangan ingin menetap di sana. Sampai sekarang, penduduk yang tinggal di kawasan Gunung Kawi pun berasal dari berbagai suku, etnis, dan kebudayaan. Sehingga orang sering menyebutnya sebagai klenik Jawa dan China.
2. Mitos Pohon Dewandaru dan Air Zam-Zam
Pohon Dewandaru sendiri dikatakan sebagai pohon yang ditanam oleh Eyang Jugo. Dan diduga pohon tersebut adalah tongkat milik Eyang Jugo.
Sejak Eyang Jugo meninggal pada 27 Januari 1971, ada banyak peziarah yang datang dan ngalap berkah di dekat malamnya tersebut. Para peziarah sering datang saat malam Senin Pahing, tepat di hari meninggalnya Eyang Jugo.
Orang-orang percaya daun, buah, dan ranting dari pohon Dewandaru di situ dapat dijadikan jimat untuk siapa pun yang bisa mendapatkannya. Selain itu, lohon Dewandaru dikenal sebagai lambang keamanan dan kedamaian di Gunung Kawi.
Bukan hanya pohon Dewandaru. Air "Zam-Zam" juga menjadi daya tarik tersendiri dalam dunia pesugihan di Gunung Kawi tersebut. Air tersebut disimpan di dalam kendi kuno peninggalan Eyang Jugo yang diyakini mampu menyembuhkan berbagai jenis penyakit.
3. Ritual Sakral Tahunan
Ritual skaral tahunan di Gunung Kawi beragam. Mulai dari ritual keagamaan hingga kebudayaan yang selama ini selalu mampu menarik perhatian banyak kalangan. Selain pesugihan, ada banyak turis yang datang untuk melihat langsung aktivitas penduduk yang terbilang nyentrik karena keberagamannya tersebut.
Salah sati ritual yang paling banyak menyedot perhatian adalah Gebyar Suro yang memang dilakukan secara besar-besaran dan mengandung unsur kebudayaan yang beragam. Mulai dari Jawa, China, dan sentuhan Islam yang lekat dalam setiap ritual Gebyar Suro di Gunung Kawi.
4. Kawasan Pariwisata dan Kehidupan Ekonomi Warga Gunung Kawi
Kehidupan sosial dan ekonomi penduduk Gunung Kawi jiga sangat menarik. Sebab, masih terlihat jelas adanya ketimpangan di sana. Tak semua penduduk mengalami kesejahteraan dalam bidang perekonomian karena sentral wisata terbentuk hanya pada satu sisi saja. Yakni ada satu kawasan wisata yang dilengkapi dengan penginapan dan hotel, rumah makan, hingga sentra berbelanja dan lain sebagainya.
Namun di satu sisi lainnya, masih ada kawasan yang tidak banyak merasakan sentuhan dari kehadiran wisatawan. Selain itu, kesadaran masyarakat akan pendidikan juga terbilang masih cukup rendah karena tingkat pendidikan masyarakat rata-rata masih sebatas hingga SMP saja.
5. Tumbal Kekayaan
Satu hal yang juga banyak diperboncangkan adalah keberadaan tumbal. Banyak yang mengatakan, untuk mendapatkan kekayaan dari hasil ritual di Gunung Kawi, maka orang yang bersangkutan harus melakukan kontrak hidup dan mati dengan penguasa Gunung Kawi tersebut.
Disebutkan jika salah sati tumbal yang paling mengerikan adalah nyawa saudara yang masih satu darah dengan orang yang bersangkutan. Dalam satu tahun, satu nyawa harus dikorbankan untuk melanggengkan kekayaan yang dimiliki.
Dan banyak yang percaya jika kekayaan seseorang akan meningkat drastis usai mengirimkan tumbalnya. Tumbal berupa nyawa tersebut diyakini akan dijadikan pelayan oleh kerajaan gaib di Gunung Kawi. Ketika seseorang ditunjuk sebagai tumbal, maka yang bersangkutan akan meninggal secara mendadak.
Sebelum menyertakan tumbal, seseorang yang hendak mencari pesugihan di Gunung Kawi disebut harus melakukan tapa brata di dekat tumbuhnya pohon dewandaru. Sebelum bertapa, yang bersangkutan juga harus mandi wajib dan baru bertapa di atas selembar daun pisang.
Yang bersangkutan pun dilarang makan, minum, tidur, bahkan buang air kecil maupun besar. Kecuali mereka membuang kotoran dalam tubuhnya di atas selembar daun pisang tersebut.
Ketika mendapatkan daun dewandaru, maka daun tersebut harus disimpan di bantal pemiliknya. Selanjutnya yang bersangkutan juga harus memulai usaha berdagang. Dan daun yang diletakkan di laci secara gaib dikatakan mampu mendatangkan uang di laci penyimpanan. Selain itu, dapat membantu kelancarab usaha secara spiritual.
Itulah tadi sederet mitos dan fakta di balik kawasan Gunung Kawi sebagai tempat pesugihan. Bahkan ada banyak cerita yang beredar jika dulunya pemilik pabrik Bentoel Group hampir mengalami kebangkrutan. Namun setelah melakukan ngalap berkah di Gunung Kawi, pemilik salah satu pabrik rokok besar di Indonesia tersebut bermimpi melihat dua batang pohon bentoel.
Saat ditanyakan pada juru kunci, dikatakan jika pemilik pabrik rokok tersebut harus mengubah merek rokoknya sebagai Bentoel. Dan, merek itu mampu bertahan hingga sekarang.
Namun itu masih sebatas cerita ya guys. Kita belum tahu kebenarannya seperti apa. Buat yang penasaran, berikut video lengkap dari channel youtube Berita Terupdate.
