MUI Sayangkan Perubahan Nama Gedung Islamic Centre

Reporter

Agus Salam

Editor

A Yahya

11 - Dec - 2018, 04:04

Gedung Islamic Centre yang namanya diubah Gedung Hayam Wuruk (Agus Salam/Jatim TIMES)

Sejumlah kalangan menyayangkan nama Gedung Islamic Centre (GIC) diubah. Mereka menyebut, perubahan nama GIC menjadi Gedung Hayam Wuruk tersebut, dinilai tidak tepat. Mengingat akan mengubah fungsi dari gedung yang berlokasi di Jalan Basuki Rahmat Kota Probolinggo tersebut.

Seperti yang diungkap ketua MUI Cabang Kota Probolinggo KH Nizar Irsyad, Senin (10/12) sore. Menurutnya, nama GIC sudah cocok dengan fungsinya selama ini yakni, untuk kegiatan keagamaan. Seperti misalnya pengajian, manasik haji dan pertunjukan keagamaan lainnya, bahkan perkawinan serta pameran UKM. Ia mempertanyakan, alasan mengapa wali kota mengubah nama yang sudah dikenal masyarakat tersebut.

Disebutkan, jika diubah menjadi Gedung Hayam Wuruk (GHW) maka fungsinya juga akan berubah. Gedung yang lahannya seluas 7 ribu meter persegi itu tidak hanya tempat kegiatan, tetapi acara lain bisa masuk. Seperti pagelaran musik anak-anak muda, dangdutan bahkan acara seronok yang tidak sesuai ajaran Islam bisa tampil di gedung tersebut. “Ya nanti semua acara bisa masuk. Segala jenis musik anak-anak muda bisa tampil di sana. Bukan lagi kegiatan keislaman,” tandasnya.

Karena itu, KH Nizar meminta pemkot mengembalikan nama gedung ke nama semula. Apalagi, perubahan nama tidak melalui proses atau tahapan. Menurutnya, MUI dan organisasi keagamaan lainnya belum pernah diberitahu, bahkan dikumpulkan untuk membahas perubahan nama tersebut. “Saya baru tahu dari sampean. Jangan seenaknya mengubah nama. Lalui tahapan dan ajak bicara kami dan ormas yang lain dan SKPD terkait,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan ketua komisi 3 DPRD setempat Agus Riyanto. Menurutnya perubahan nama tidak menjadi penting, yang lebih penting adalah mengoptimalkan fungsi gedung sesuai namanya. Jika nama gedung bernuansa islami, maka kegiatan yang ada di dalamnya harus berbau dan bernuansa islamik. Seperti, musik islami, pengajian atau acara lain yang ada keterkaitan dengan islam.

Ternyata selama GIC berdiri hingga saat ini, acara yang digelar didalam gedung campur aduk alias gado-gado, tidak khusus untuk acara kegiatan keagamaan. Agus kemudian menyebut GIC diisi acara resepsi kawinan, musik kalangan muda, bahkan musik punk pernah tampil di GIC. “Ya, harus sesuai dengan namanya. Jangan kemudian di dalamnya ada acara kalangan muda. Misalnya seperti seminar dan lain-lain,” tandasnya.

Terkait dengan nama islamic centre yang tidak nyaman dilafalkan masyarakat karena berbahasa  Inggris. Dan pemerintah menghendaki nama-nama gedung dan perumahan berbahasa Indonesia. Menurut Agus tidak perlu mengubah nama GIC menjadi gedung Hayam Wuruk. “Kalau lebih lokal dan meng-Indonesia, saya rasa tidak perlu mengubah. Cukup tulisannya saja diubah ejaan Bahasa Indonesia. Misalnya Islamik senter,” tandasnya.

Terpisah, kepala bidang Asst pada Dinas Keuangan Abdi, enggan berkomentar soal perubahan nama tersebut. Ia menyarankan untuk menghubungi langsung kepala Dinas Keuangan Imanto atau Sekda Kota Probolinggo, dr Bambang Agus Suwiknya. Hanya saja, saat dihubungi beberapa kali, sekdakota dan kepala Dinas keuangan, selulernya aktif, tapi dialihkan alias tidak diangkat. “Saya enggak enak kalau komentar. Sampaian hubungi saja pak sekda atau pak Imanto,” kata Abdi singkat.