Mewujudkan Kota Batu sebagai sentra pertanian organik nyatanya hingga kini bukanlah hal yang mudah. Meski susah, tetapi pertanian di setiap desa terus memberikan inovasinya.
Jika sebelumnya ada sejumlah 9 kawasan pertanian organik di Kota Batu yang tersertifikasi, saat ini menunjukkan perubahannya bertambah menjadi 14 kawasan organik yang sudah tersertifikasi.
Sejumlah 14 kawasan itu tersebar di 3 kecamatan. Untuk di Kecamatan Junrejo ada Desa Pendem, Kelurahan Dadaprejo, Desa Mojorejo, Desa Junrejo, Desa Beji, dan Desa Torongrejo. Lalu untuk Kecamatan Batu ada Kelurahan Temas, Kelurahan Sisir, dan Desa Sumberejo.
Dan di Kecamatan Bumiaji ada Desa Gunungsari, Desa Pandanrejo, Desa Giripurno, Desa Tulungrejo, Desa Sumberbrantas. “Tentunya setiap desa itu berupaya yang terbaik untuk pertaniannya. Melihat potensi pertanian organik saat ini banyak dicari,” kata Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kota Batu, Yayat Supriatna.
Dari jumlah saat ini, kedepan pastinya akan terus bertambah. Sebab saat ini ada empat desa yang akan disertifikasi. Yakni Desa Pesanggrahan, Desa Tlekung, Desa Bulukerto, dan Desa Sumbergondo.
“Untuk saat ini empat desa yang mengajukan itu masih dalam tahap proses. Ya diperkirakan akhir tahun 2018 ini selesai,” ungkapnya, Selasa (23/10/2018).
Menurutnya agar bisa lolos sertifikasi ada beberapa persyaratan dan kriteria. Antara lain seperti pemetaan lahan, hasil pertanian, dan deskripsi produknya. Bahkan juga dilihat dari bagaimana pengendalian hamanya.
“Karena kami terus memberikan pendampingan agar terwujud pertanian organik di Kota Batu, agar sesuai dengab visi Kota Batu,” tambah Yayat.
"Kami terus mendukung petani yang beralih ke pertanian organik. Target kami memang lahan organik ini bertambah," kata Yayat.
Ia menambahkan dengan adanya sertifikasi lahan pertanian organik ini diharapkan bisa menguntungkan secara ekonomi bagi pertani, juga menguntungkan saat dikonsumsi.
Akan tetapi sejauh ini petani yang sudah mengembangkan pertanian organik masih susah untuk memasarkan produknya. Karena itu ia akan mencarikan solusi pemasaran. “Semisal kerjasama dengan BUMD Kota Batu yakni Batu Wisata Resource (BWR),” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian Kota Batu Hendri Suseno menambahkan jika memang kendala pertanian organik itu adalah pemasaran. Namun pihaknya tidak tinggal diam. Tetap mencarikan solusi pemasaran.
"Memang pertanian organik itu memiliki pasar sendiri. Kami tidak tinggal diam, tetap kami cari peluang di setiap kesempatan. Kami kerja sama dengan BWR, PHRI," kata Hendri.
Selain itu, pihaknya juga memberikan peluang kepada petani organik bisa tembus pasar dengan menawarkan hasil pertanian organik. Ada berbagai macam pertanian organik yang sudah dikembangkan. Di antaranya ada cabe besar, brokoli, andewi, selada, lettuce, sawi hijau, dan masih banyak lagi.