Ribuan Mata Terbelanga Saat Bantengan Nuswantara Menutup Pawai Budaya Apeksi di Kota Batu
Reporter
Irsya Richa
Editor
Heryanto
19 - Apr - 2018, 02:32
Kesan takut hingga penasaran menyelimuti para peserta Rapat Koordinasi (Rakor) Komisariat Wilayah (Komwil) IV ke 14 tahun 2018 Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) dan masyarakat yang menonton Pawai Budaya di depan Rumah Dinas Wali Kota Batu, Rabu (18/4/2018).
Khususnya, saat Banteng Nuswantara dari Kota Batu sebagai penutup pawai sukses membuat mata ribuan para penonton terbelanga.
Kota Batu sebagai tuan rumah menutup acara pawai budaya dengan sukses melalui aksi Banteng Nuswantara karya Agus Tubrun.
Aksi bantengan nuswantara dari Kota Batu dalam Pawai Budaya Rakor Komwil IV Apeksi di depan Rumah Dinas Wali Kota Batu, Rabu (18/4/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)Aksi bantengan ini dimulai dengan penampilan pencak silat oleh empat orang, dilanjutkan dengan pertunjukkan debus yang diperankan beberapa orang.
Kemudian penampilan beberapa atraksi kesenian bantengan dan belasan orang melakukan aksi cemeti. Tak cukup dengan itu, Agus Tubrun bersama tim mulai meletakkan beberapa sesaji di depan panggung kehormatan sebagai tanda dimulainya atraksi bantengan.
Kemudian Agus memulai mengucapkan doa di depan sesaji dan puluhan bantengan, usai mengucapkan doa, menyiramkan air bunga seketika para pemeran bantengan itu kalab. Para pemimpim daerah yang hadirpun seketika kaget dan penasaran akan aksi tersebut.
Aksi 10 reog dari Kota Batu dalam Pawai Budaya Rakor Komwil IV Apeksi di depan Rumah Dinas Wali Kota Batu, Rabu (18/4/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)Terlebih masyarakat Kota Batu yang rindu akan kesenian tersebut terlihat sangat antusias. Meski acara telah ditutup masih banyak yang menyaksikan bantengan nuswantara.
“Pawai budaya yang seperti ini yang kami rindukan. Banyak kebudayaan yang disuguhkan. Aksi bantengan harus ada di setiap pawai. Enggak lengkap kalau tidak ada bantengannya,” ungkap Rohmat Kurniawan, warga Kota Batu.
Selain itu, saat pembukaan ada pertunjukkan drum band dari beberapa SD di Kota Batu. Lalu ada kesenian sandukan yang melibatkan puluhan warga Kota Batu. Sanduk adalah kesenian yang selalu hadir disetiap kegiatan.
Aksi penampilan sanduk dari Kota Batu dalam Pawai Budaya Rakor Komwil IV Apeksi di depan Rumah Dinas Wali Kota Batu, Rabu (18/4/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)Selain sanduk ada juga patrol perkusi yang dimainkan oleh muda-mudi Kota Batu di atas mobil hias bertuliskan Shining Batu. Lalu ada tarian Petik Titanen yang menggambarkan aktivitas para petani sedang memanen sayuran.
Pelaksana tugas (plt) Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Drs Imam Suryono mengatakan usai mengenali kebudayaan dan kesenian 12 kota lainnya, tentu Kota Batu harus terus mengembangkan kesenian lokal. Hingga saat ini di Kota Batu sudah ada 34 kesenian.
“Salah satu kesenian yang menjadi kekuatan kita adalah bantengan. Karena itu, dalam pawai budaya ini kita suguhkan bantengan,” ungkap Imam.
Aksi tari Petik Titanen dari Kota Batu dalam Pawai Budaya Rakor Komwil IV Apeksi di depan Rumah Dinas Wali Kota Batu, Rabu (18/4/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)Menurutnya, kesenian lokal seperti bantengan itu terbukti mampu mendatangkan wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara.
Karena itu Dinas Pariwisata Kota Batu terus mengajak masyarakat untuk mengangkat kebudayaan dan kesenian lokal yang menjadi ciri khas Kota Batu.
“Sesuai dengan visi kami Desa Berdaya Kota Berjaya, maka kami harus mengembangkan kesenian yang ada untuk meningkatkan kunjungan wisatawan,” harap Imam.
