Dua Tahun Lalu Terpuruk, Kini Jadi Miliarder Pencetak Miliarder

Reporter

Khoirul Anwar

Editor

Redaksi

22 - Dec - 2015, 03:20

INSPIRATOR: Tyas Dedy testimoni di Banjarmasin di hadapan 2000 an Gluver.

 

Semangat seorang Widya Ning Tyas mengubah hidup keluarga sendiri dan ribuan keluarga lainnya di Pulau Kalimantan patut dijadikan teladan. Dalam keadaan terpuruk ekonomi dan mental, ia sanggup bangkit dan sukses. Tak hanya itu, ia pun bisa membikin sukses ratusan ribuan orang. Bagaimana perjuangannya? TIMESINDONESIA bekerja sama dengan PT Glutera Indonesia di Hari Ini yang jatuh hari ini, menuliskan kisah inspiratif Tyas Dedy, si miliader pencetak miliader.

***

Kota Banjarmasin, Juni 2011. Suhu dingin menjelang Subuh di kota itu belum mampu memadamkan panasnya pikiran Widya Ning Tyas dan sang suami, Dedy Sasmitha. 

’’Kalau ibu tidak bisa segera membayar rumah ini, terpaksa saya mencarikan pembeli lain. Dan konsekwensinya, ibu harus mengosongkan rumah ini.’’ 

Kalimat dari seorang developer sore harinya terus terngiang di pikiran Tyas, sapaan akrab Widya Ning Tyas. ’’Saya sampai tidak bisa tidur semalaman memikirkan itu. Bagaimana anak saya, ibu saya yang sudah tua,’’ pikir Tyas.

Air mata Tyas pun meleleh. Sang suami, Dedy hanya bisa mendekapnya. ’’Sudahlah, pasti ada jalan. Ini ujian,’’ ucapnya pendek. Sang ibu yang mendengar keluhan Tyas pun menitikkan air mata.

Hingga pagi menjelang, belum ada solusi dari ’’kalimat’’ sang developer itu. Tyas pun makin bingung. ’’Mau tinggal di mana anak-anak nanti. Ibu yang sudah mulai memutih rambutnya,’’ kata Tyas berkali-kali. Tangis pun meledak.

Sang suami terus berusaha menenangkan. Keduanya pun terdiam dalam lamunan masing-masing. Membiarkan pikiran melanglang.   

Lamunan Tyas menerawang jauh ke belakang. Beberapa bulan sebelumnya, ia dan keluarganya masih merasakan hidup berkecukupan. Mereka tinggal di Banjarmasin, ibu kota Kalimantan Selatan. 
Sanggar senam yang dikelola Tyas berkembang di kota itu. Bahkan bisa dibilang cukup terkenal. Sanggar Luvena, nama sanggar senam itu. 

Dari sanggar itulah Tyas dan keluarganya sehari-hari memenuhi kebutuhan hidup selain penghasilan dari pekerjaan Dedy. Namun Tuhan memiliki rencana lain bagi Tyas.

Bahkan Tuhan membalik keadaan. Ujian berat menimpa pasangan ini. Karena suatu hal dan keadaan, seluruh aset Tyas harus tersita bank. Tyas shock. Begitu juga sang suami. 

Pikiran pun campur baur jadi satu. Betapa tidak, rumah dan tempatnya mencari nafkah habis semua. Keluarga jauh. Tak punya siapa-siapa. 

’’Semuanya habis. Sepertinya saya sudah trauma dengan Banjarmasin. Sejak saat itu saya sangat malu masuk Banjarmasin. Semua orang seperti menertawakan kami, walau itu hanya perasaan saya saja,’’ katanya.

Setelah pikiran agak tenang, Tyas dan Dedy memutuskan untuk ke Banjarbaru. Sekitar 60 km dari Banjarmasin. ’’Di Banjarbaru ini saya punya tanah empat kavling. Tapi semuanya belum lunas. Hanya di-DP saja,’’ kenangnya.

Namun karena sudah kepepet, Tyas dan keluarga pun akhirnya ke Banjarbaru. Mereka tinggal sementara di rumah kontrakan. Hidup seadanya sembari berharap bisa segera bisa menempati rumahnya.

Tapi ujian Tuhan tidak berhenti di situ. Pihak developer yang hanya menerima DP saja tidak bisa menerima permintaan Dedy. Untungnya, negosiasi tetap bisa dilakukan. 

’’Satu kavling mini diberikan ke kami. Tapi pembangunannya disuruh kredit bank. Sudah cukup senang dengan keputusan itu meski juga tidak tahu uang dari mana untuk menyicil bank,’’ ungkap Tyas.

Benar saja. Saat sudah mengajukan aplikasi kredit dan melengkapi syarat-syaratnya, pengajuan bank Tyas ditolak. Tak hanya oleh satu bank. Tapi juga beberapa bank.

Tyas-Dedy nyaris putus asa. Apalagi developer juga sudah mulai menyindir-nyindir. Puncaknya, developer akan menjual ke pihak lain jika rumah tidak segera dibayar.

’’Kalimat itu sangat memukul saya. Pikiran tidak karuan. Saya sampai tidak bisa tidur,’’ kenang ibu dua anak Aurel Luvena Syaamaa (10 tahun) dan Aisyah Faizdha Gonniyah (2 tahun) ini.

Usai sholat Subuh, pasangan suami istri ini bisa sedikit menenangkan diri. Pasangan suami istri ini pun berunding. Pagi harinya, mereka menemui sang developer. 

’’Mas Dedy mengatakan akan membayar lunas rumah itu. Tapi kami minta waktu hingga enam bulan. Jika enam bulan tidak bisa membayar, rumah itu bisa dialihkan ke orang lain,’’ cerita Tyas.

FOTO-BARENG-tinyJVHN.jpg

Kesepakatan pun mereka lakukan dengan developer. Mereka pun putar otak. Kadang juga bingung, tapi kadang juga optimis. ’’Masih ada ibu di sisiku. Saya yakin doanya makbul,’’ pikir Tyas waktu itu.   

Tyas seperti terlahir kembali. Ia mencoba melupakan masa lalunya yang kelam. Memorinya sedikti demi sedikit dihapus. Meski kadang jika mendengar kata Banjarmasin, trauma itu muncul.

Kala itu, yang ada di pikirannya hanya satu. Bisa melunasi rumahnya. ’’Anak, ibu, dan si jabang bayi dalam kandungan ini yang membuat saya dan Mas Dedy bertahan,’’ tandas Tyas yang kala itu mengandung anak keduanya.

Selain bekerja keras, Tyas juga menjualkan produk Glutera milik Cik Win. Satu paket dia diberi upah Rp 50 ribu. Sehari ia pun bisa menjual lebih dari 5 paket. Dari uang itu, sebagian ditabung, sebagian lagi untuk kebutuhan sehari-hari. 

Dari sinilah Allah menunjukkan jalan hambaNya yang lulus ujian. Suatu hari Tyas menanyakan pada Cik Win tentang Glutera. Tujuannya hanya satu, ingin menambah pendapatan karena bisa menjual lebih banyak.

’’Saya mendengar jika bisa menjual banyak ada bonusnya. Tambahi dong cik, masak cuma Rp 50 ribu saja,’’ kata Tyas kala itu.

Cik Win mengiyakan. Tapi jika ingin mendapat tambahan lagi, Tyas harus jadi member. ’’Saya langsung semangat waktu itu. Mungkin ini jalan saya bisa mengubah hidup,’’ pikir Tyas waktu itu.
Tapi lagi-lagi kendalanya biaya untuk jadi member. ’’Tiga paket harus saya beli. Duitnya darimana? Ada uang tabungan, tapi untuk cicilan rumah,’’ katanya.

Tapi tekad mengalahkan segalanya. Dukungan sang suami, Dedy, makin menguatkan Tyas. Akhirnya ia pun mendaftar jadi member Glutera. Tiga paket ia beli. 

Sejak itu ia pun makin rajin menjual Glutera. Berangkat pagi pulang malam. Begitu tiap hari. Ia jalani itu beberapa bulan.

TIGA-darA-tinthg.jpg

Man jadda wajadda. Siapa bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Di tengah kesungguhan itu, Tyas nekad ikut training di Malang. Dalam kondisi hamil, ia menyeberangi laut Jawa menuju Malang. ’’Saya hanya bawa uang Rp 400 ribu ke Malang. Makan dan tidur nebeng teman,’’ kenangnya.

Setelah pulang training, ilmunya ia terapkan. Hasilnya penghasilan Tyas meledak. Hanya dalam waktu sebulan, ia bisa melunasi rumahnya. 

Praktis, janji akan melunasi enam bulan ke developer, tapi dalam waktu sebulan sudah bisa dilunasi. Tak hanya itu, di bulan kedua ia sudah bisa membeli mobil.  

Allah seperti benar-benar membuka pintu rejeki untuk Tyas. Hanya dalam waktu empat bulan, kehidupannya berbalik 180 derajat. 

’’Ibu saya sampai menangis melihat ini. Semuanya seperti terbalik. Kami sangat bersyukur. Sangat bersyukur,’’ ucap Tyas.

Tyas dan Dedy yang terpuruk tiga tahun lalu, sekarang berubah total. Hinaan dan cercaan yang pernah ia alami kini berbalik. 

Bahkan, kini Tyas jadi miliader baru di Banjarmasin. Tak hanya itu, ia juga telah mencetak miliader-miliader dan jutawan-jutawan baru di Kalimantan dan Jawa. 

Semua karena tekadnya dan semangat militannya yang luar biasa. ’’Syukur Alhamdulillah. Glutera mengubah hidup saya. Semoga ibu-ibu di Indonesia bisa sukses semua. Hilangkan masa lalu, mari menatap masa depan. Allah selalu bersama hamba-Nya yang sabar dengan ujian, dan bersungguh-sungguh dalam apapun,’’ tutur wanita kelahiran 10 Oktober 1981 ini.

Kini, ratusan ribu wanita yang jadi binaan Tyas, sebagian besar dari mereka mulai menuai kesuksesan mengikuti jejak TyasDedy. Dari tangan dingin Tyas Dedy muncul ratusan leader baru. Mereka berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari ibu rumah tangga biasa, dokter, akademisi, pejabat, hingga sosialita.

Owner Glutera Andri Ariestianto bahkan memberi apresiasi khusus pada Tyas. Berkali-kali Andri memberi penghargaan pada ibu rumah tangga yang sempat terpuruk ini.

’’Seperti lirik lagi Iwan Fals, seperti itulah perjuangan Mbak Tyas dan Mas Dedy. Saya sangat bangga dengan mereka. Ibu-ibu di Indonesia tentu juga sangat bangga,’’ kata Andri seraya mengutip syair lagu Iwan Fals.   

Ribuan kilo, jalan yang kau tempuh. Lewati rintangan untuk aku anakmu. Ibuku sayang, masih terus berjalan. Walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah. 

Selamat Mbak Tyas, semoga terus jadi inspirasi ibu-ibu di Indonesia. Spirit perjuangan Anda akan mengilhami banyak wanita hebat dan sukses di nusantara ini. (*)