MALANGTIMES - Banyak temuan baru, Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Dr Hariyono sarankan bahan ajar pendidikan sejarah Indonesia di review ulang. 

Karena dari banyaknya hasil temuan baru yang juga disertai dengan bukti kuat itu, banyak menunjukkan fakta-fakta baru yang ia sebut harus segera diungkap.

Guru besar Bidang Sejarah Politik di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang (UM) ini menyampaikan, review ulang bahan ajar pendidikan sejarah itu perlu dilakukan untuk menumbuhkan rasa kebanggaan nasional.

Karena dalam buku sejarah yang dipelajari selama ini, Indonesia hanya menjadi objek dan bukan sebagai subjek berkembangnya sebuah peradaban.

"Padahal dalam berbagai temuan baru, ada banyak fakta yang menonjolkan Indonesia sebagai subjek sebuah peradaban, dan bukan hanya objek atau penerima budaya saja," katanya pada MalangTIMES saat ditemui di salah satu giatnya di Hotel Atria Malang yang digelar belum lama ini.

Pria berkacamata itu menyampaikan, dalam beberapa buku pelajaran atau bahan bacaan sejarah yang ada sekarang, Indonesia seolah pasif dan hanya penerima sebuah perkembangan peradaban. 

Sementara jika ditelusuri lebih jauh, fakta berkata lain dan lebih menegaskan jika Indonesia sebagai pelaku dan bukan sebatas penerima sebuah kebudayaan.

Dia pun mencontohkan keberadaan Budaya Dongson yang selama ini dalam berbagai buku dikatakan sebagai budaya yang berkembang di Lembah Sông Hồng, Vietnam. 

Padahal, karakter Dongson di Ternate ia sebut jauh lebih tua dibanding dengan temuan yang didapat di Vietnam.

"Contoh lain itu relief perlengkapan musik yang terpahat rapi di Candi Borobudur. Di sana terpahat beberapa alat musik seperti kendang hingga seruling. Alat musik itu pun sampai sekarang digunakan di lebih dari 40 negara termasuk Indonesia. Yang jadi pertanyaan sekarang, apakah alat musik itu di bawa bangsa luar ke Indonesia, atau justeru nenek moyang kita yang membawa dan memperkenalkan itu ke berbagai negara yang sekarang memiliki alat musik yang sama?," tegasnya.

Temuan-temuan yang menyuguhkan sederet fakta menarik itu menurutnya harus terus digali dan diungkapkan. 

Karena keberadaan sejarah ia nilai bukan sebagai sebuah kenangan untuk mengidolakan masa lalu. 

Melainkan sebuah perjalanan yang semestinya membuat seseorang berfikir dan menggali masa lalu untuk masa depan.

"Kita semua, utamanya yang bergerak dalam bidang sejarah harus mengajak melihat Indonesia sebagai subjek peradaban dunia, bukan hanya penerima sejarah. Mindset harus dirubah, dan tak hanya sebatas percaya dan menjadikan kita sebagai bangsa yang pasif," terangnya.

Dia pun mendorong agar penelitian sejarah dilakukan untuk kembali membangun mindset kepercayaan diri bangsa. 

Karena tak sedikit penelitian yang pada dasarnya menunjukkan Indonesia sebagai bangsa yang aktif dalam mengembangkan sebuah peradaban.

"Bahan ajar Sejarah yang ada sekarang pun saya rasa perlu untuk direview ulang," pungkasnya.